CLOUD COMPUTING (5)

Internet Tanpa Kabel Semakin Digemari

0
97
Pengguna cloud computing di Indonesia menningkat secara sifnifikan. (Sumber foto: http://1.bp.blogspot.com/)

Nilai bisnis cloud Indonesia sebesar US$308 juta (2016) meningkat jadi US$378 juta (2017). Namun, Singapura dan Korea Selatan masih mengalahkan kita. Hati-hati gunakan Wi-Fi gratis.

Pengguna cloud computing di Indonesia menningkat secara sifnifikan. (Sumber foto: http://1.bp.blogspot.com/)
Pengguna cloud computing di Indonesia menningkat secara sifnifikan. (Sumber foto: http://1.bp.blogspot.com/)

Bisnis penyedia cloud computing cukup prospektif dan menjanjikan. Hal itu bisa disimak dari pengguna internet tanpa kabel (nirkabel) semakin tinggi di kota-kota besar di Indonesia. Menurut Cloud Forum, selama ini masyarakat bergantung pada akses internet dari portable hotspot atau smartphone dan perangkat internet tanpa kabel atau penggunaan Wi-Fi gratis di kafe dan tempat-tempat umum.

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet dan Lembaga Poling Indonesia menyebutkan pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang pada tahun 2016, sekitar 92,8 juta orang mengakses internet melalui perangkat bergerak dan 17,7 juta orang menggunakan fasilitas internet di rumah atau kantor.

Advertisement

Oleh karena akses internet melalui fasilitas Wi-Fi yang gratis maka pengguna harus lebih berhati-hati. Risiko  pencurian data dan kerugian finansial bisa terjadi. Buktinya, para pemilik smartphone—lebih-lebih warga yang memiliki kartu kredit—selalu kebanjiran promosi penawaran (uang pinjaman, bantuan penutupan kartu kredit) yang berasal dari pihak-pihak tertentu. Bahkan pengirim mengetahui dan menuliskan nama penerima target promosi. Artinya data dari kartu kredit kita disebarkan oleh pihak-pihak tertentu.

Di sinilah operator cloud berperan untuk melindungi warga pengguna internet. Meski penggunaan komputasi awan belum semarak di Singapura dan Kore Selatan, maraknya startup—aktivitas bisnis secara online—bisnis jasa penyedia cloud computing bakal booming di Indonesia beberapa tahun mendatang.

Perusahaan penyedia jasa cloud berpeluang menggarap 57,9 juta unit pelaku UKM di Indonesia (Kementerian  KUKM, 2014), dan jumlah itu naik menjadi 59.000.000 unit usaha pada 2017. Sosialisasi penggunaan internet dilakukan oleh organisasi, asosiasi perusahaan, dan pemerintaha. Demikian pula  Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang mempunyai binaan usaha  dan mengarahkan binaan untuk menggunakan internet.

Hampir seluruh sektor bisnis seperti manufaktur, finansial, tambang, energi, logistik, kemasan, pertanian, perdagangan, sosial, pendidikan, politik, pariwisata, kependudukan, dan lain sebagainya berpontesi sebagai pengguna cloud.

Untuk itu, 8 perusahaan yang bergerak di bidang Teknologi Informasi (TI) menjalin kerja sama yang menyediakan solusi total cloud services secara end-to-end. Ke-8 perusahaan itu adalah Multipolar Technology, Sisindokom Lintasbuana, Mastersystem Infotama, dan Logicalis Metrodata Indonesia. Kemudian perusahaan Expert Data Voice Solution, Kayreach System, Sinergy Informasi Pratama, dan Revo Solusindo.

Perusahaan penyediaan teknologi cloud yakni  Cisco System Indonesia dan Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) selaku penyedia cloud services mendukung ke-8 perusahaan itu. Internasional Data Corporation (IDC) memprediksi nilai total pasar cloud di Indonesia pada tahun 2016 mencapai US$308 juta menjadi US$378 juta pada tahun 2017.

Baca juga :   Menatap Kerja sama Ekonomi dan Investasi Intra-ASEAN

Manfaat SaaS, PaaS dan IaaS

Pemberdayaan daya saing pada era big data dapat kita lakukan dengan pemanfaatan cloud computing. Jangan sampai perusahaan asing yang melahap potensi besar cloud di Indonesia. Kepada Per, Direktur Utama Sisindokom Lintasbuana Tikno Ongkoadi menuturkan bahwa meningkatkan penetrasi penjualan—menawarkan solusi cloud secara end-to-end—kian efisien dan efektif. Pelanggan dapat membeli perangkat dan bandwidth dalam satu paket.

Penggunaan cloud bukan hanya pendukung Teknologi Informasi. Faktor efisiensi, daya saing, fleksibilitas, pengaturan kebutuhan kapasitas virtual server, dan kecepatan layanan merupakan kebutuhkan mutlak perusahaan dan pebisnis era big data ini.

Mau tak mau perusahaan harus beralih ke cloud computing.  Ketika load bisnis sedang meningkat, perusahaan dengan mudah melakukan scale up kapasitas virtual server. Demikian pula saat kondisi bisnis sedang normal, maka kapasitas virtual server dapat dengan mudah disesuaikan kembali.

Layanan cloud services terdiri dari cloud public dengan infrastruktur TI multi-tenant berperangkat virtual server yang  diakses melalui jaringan internet dan  jaringan private. Sementara layanan cloud private dengan  infrastruktur TI menggunakan perangkat dedicated untuk satu perusahaan yang diakses melalui jaringan internet mau pun jaringan private. Acara TV dan video dengan streaming  menggunakan sistem cloud, menyimpan musik,  dan menyimpan data backup dengan sistem cloud—cepat, praktis, dan tidak perlu membeli HDD.

Orang kian mudah mengakses internet melalui Software as a Services (SaaS) salah satu bentuk layanan cloud berlangganan untuk e-mail, sistem penyimpanan, sistem produksi, dan mampu menganalisis data. Oleh sebab itu, perusahaan startup, toko online atau lainnya bisa menggunakan satu atau beberapa layanan SaaS yang dapat dioptimalkan untuk berbagai kebutuhan lain.

Sementara, perusahaan yang sudah memiliki aplikasi seperti e-commerce, tak memerlukan SaaS, sebaiknya memanfaatkan Platform as a Services (PaaS) dan Infrastructure as a Service (IaaS). PaaS berguna untuk memanfaatkan sistem server yang kemudian meletakkan aplikasi untuk dikembangkan dengan fasilitas firewall, sistem operasi, dan lain-lain. Sedangkan IaaS untuk memudahkan pengguna cloud agar dapat mengatur cloud sesuai dengan kebutuhan.

Sukses untuk Anda  (Bahan  diolah dari berbagai sumber seperti Tribunnews.com, rosid.net, koinworks.com/)

Simak Cloud  Computing (1)

Manfaat Berserver di Awan

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda