BISNIS TEKNOLOGI INFORMASI

Indosat Gunakan Energi Hijau dan Telkom Operasikan ICT Kelas Dunia

0
11

Meski rupiah melemah dan inflasi menekan, para pebisnis teknologi informasi meningkatkan investasi sebesar US$15 miliar. Sayangnya, perusahaan dometik belum mampu membuat produk untuk mengganti bahan impor. Apa itu layanan broadband wireless access?

131021-01a

Penggunaan teknologi informasi di Indonesia terus meningkat. Masyarakat kita semakin modern dengan nilai peradaban baru yang kian melekat dalam keseharian warga negara baik yang tinggal di desa-desa, lembah, pengunungan, dan di daerah kumuh di kota-kota. Misalnya seorang penggembala kerbau di Batujagar atau Lobutua—kedua desa ini masuk ke wilayah Kececamatan Palipi, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, telah dilengkapi alat komunikasi yang bernama ponsel atau hape atau mobile cell.

Advertisement

Tahun 1960 hingga awal tahun 2000-an, penggembala di Samosir harus berteriak keras-keras ketika menggembalakan ternaknya. Untuk menghibur diri, penggembala meniup seruling bambu. Sekarang?

Penggembala tidak terlalu mahir lagi menggunakan seruling, lebih asyik mendengarkan musik dari ponsel. Jangan heran, kalau kita memanggil nama anak yang sedang menggembalakan ternaknya, dia tidak mendengatkan suara keras yang memanggil-manggil namanya. Bukan tidak mungkin, suatu saat binatang piaraan bisa digembalakan melalui chip yang ditanamkan dalam tubuh binatang piaraan.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, para pebisnis sektor teknologi informasi—telekomunikasi, komputer dan indusri pendukung—mau tak mau harus mengalokasikan dana besar untuk dibelanjakan meski  nilai rupiah masih lemah terhadap mata uang asing utamanya terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Belanja peralatan TI diperkirakan bertumbuh antara 5 persen dan 10 persen pada tahun 2014. Dana yang dibelanjakan itu  mencapai minimal US$15 miliar atau sekitar Rp173 triliun—belum termasuk belanja pemerintah dan para caleg yang akan bertarung memerenutkan kursi di gedung DPR di Senayan dan di gedung-gedung DPRD di tingkat provinsi dan kabuapten/kota di seluruh Indonesia.

Sebagian besar dana tersebut akan dibelanjakan untuk peranti keras (hardware) yang kebanyakan masih diimpor. Tahun 2013, belanja TI diperkirakan US$14,17 miliar atau naik 12,64 persen dibanding tahun sebelumnya.  Sekitar 80 persen dana tersebut digunakan untuk belanja hardware,  sisanya untuk jasa TI (IT services) sekitar 15 persen dan peranti lunak (software) 5 persen.

Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia (BI),  inflasi tahun 2013 mencapai 9-9,8 persen.  Padahal,  pemerintah menargetkan inflasi hanya 7,2 persen dalam APBN Perubahan 2013.  Bank sentral juga menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi RI tahun ini menjadi 5,5-5,9 persen,  dari semula 5,8- 6,2 persen.

Sedangkan pemerintah menargetkan pertumbuhan 6,2 persen namun target tersebut tampaknya tidak tercapai.  Nilai tukar rupiah pada pertengahan Oktober 2013 menembus Rp11.500 per dolar AS atau melemah 20,4 persen year to date dibanding awal Januari 2013 yang berada pada posisi Rp9.548.

Presiden Direktur Perdana Consulting (mitra SAP) Riyanto Gozali  tetap optimistis belanja TI tahun 2013 mencapai target sebesar US$14,17 miliar dan pada 2014 naik menjadi US$15 miliar.

Namun,  tahun 2014,  porsi belanja untuk layanan jasa TI diperkirakan meningkat menjadi 22 persen,  sedangkan belanja untuk hardware turun menjadi 73 persen dan software stagnan 5 persen, dekian Riyanto.

Salah satu pengurus Associate Research Director and Head of Operations International Data Corporation (IDC) Indonesia, Sudev Bangah mengatakan,  belanja TI yang paling terkoreksi adalah pada segmen konsumer atau ritel,  bukan korporasi. Dia menyarankan vendor harus lebih gesit menyikapi hal tersebut dan perlu menawarkan produk dengan dukungan tambahan atau beragam strategi bundling.

“Pertumbuhan belanja TI tahun 2014 tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan tahun ini, 12-13 persen,” katanya.

Djarot Subiantoro mengatakan,  peningkatan belanja perusahaan untuk IT services terjadi pada tahun 2013, dari estimasi tahun 2012 sebesar 12 persen menjadi 15 persen.  Sedangkan belanja untuk software turun dari estimasi 8 persen menjadi 5 persen tahun 2013.  Hal itu disebabkan banyak perusahaan mencari alternatif open source dan software lokal yang tidak perlu membayar mahal dibanding barang impor yang harus dibayar dengan mata uang asing seperti dolar AS.

BTS Indosat gunakan energi hijau

131021-01b

Sementara itu, PT Indosat segera menggunakan energi hijau yang berasal dari baterai zinc ketika mengoperasikan menara telekomunikasi di daerah-daerah rawan gangguan pasokan listrik.

Menurut Direktur Utama PT Indosat Alexander Rusli, pihaknhya telah melakukan uji coba di beberapa titik di wilayah Kalimantan dan Sumatera selama kurang lebih empat bulan dan ternyata hasilnya melebihi harapannya.
Teknologi baterai jenis zinc yang memungkinan pengisian ulang diklaim dapat meningkatkan efisiensi layanan Indosat dalam pengoperasian menara telekomunikasi,  sekaligus ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah seperti baterai jenis lead-acid. 

Baca juga :   RI Urged to Seize Momentum at APEC

Indosat telah menjajaki kerja sama ini sejak 2011,  dan perusahaan mitranya sudah berinvestasi di Indonesia dengan membangun pabrik baterei zinc di Indonesia. Pihak Indosat berharap kerja sama itu bisa berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.

Presiden Fluidic Energy—mitra Indosat—Dennis Thomsen  mengatakan pihaknya serius dalam mengembangkan energi hijau tersebut di Indonesia. Untuk itu, perusahaannya telah menginvestasikan lebih dari US$25 juta melalui perusahaan Fluidic Indonesia,  dan lebih dari 85 persen komponen saat ini telah diproduksi di Indonesia.

Thomsen mengatakan sistem perawatan baterai zincair yang diproduksi perusahaannya juga relatif mudah dalam perawatan sehingga akan menekan biaya operasional yang dikeluarkan oleh  operator seperti Indosat.

Pada waktu yang akan datang,  Fluidic Indonesia diharapkan dapat melakukan ke seluruh wilayah di Asia Pasifik,  sementara saat ini juga telah dijajaki kerja sama dengan pihak operator lain seperti Telkomsel,  XL, dan SmartFren.

First Media siapkan layanan BWA dengan US$200 juta

131021-01c

Tak mau kalah PT First Media mengalokasikan dana US$200 juta untuk mengembangkan layanan broadband wireless access (BWA).  Perseroan ini mengandalkan sumber pendanaan dari vendor,  internal,  dan pinjaman dari bank.

Direktur First Media Dicky Moecthar mengatakan,  dana tersebut akan digunakan untuk menambah jumlah base tranceiver station (BTS) hingga 3.500 BTS.  Untuk tahap awal perseroan akan membangun 1.500 BTS di wilayah Jakarta.  “Dana tersebut akan digunakan dalam waktu setahun,” ujarnya.

Menurut Dicky,  pendanaan dari vendor akan menjadi kontributor terbesar pendanaan.  Salah satu vendor yang ingin mengembangkan BWA tersebut adalah Huawei.  Sumber pendanaan berikutnya adalah internal dan pinjaman perbankan.

Perseroan tengah menggenjot kembali bisnis BWA dengan melakukan alih teknologi dari Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) ke Time Division Duplex Long Term Evolution (TDD LTE).  Dicky mengatakan,  perseroan juga menggandeng mitra lain yakni Internux pemilik lisensi di kawasan Banten. Dengan bermitra,  perusahaannya  akan memberikan pelayanan lebih bagi pelanggan.  Saat ini,  perseroan dalam proses roll-out jaringan dan optimalisasi layanan.

Direktur First Media Harianda Noerlan menambahkan,  melihat perkembangan bisnis ke depannya,  maka penyesuaian bisnis diperlukan.  Oleh karena itu, pihaknya sedang menghitung jumlah investasinya,  apakah cukup US$200 juta atau lebih. “Kami masih dalam persiapan,” ujar Harianda.

First Media mempunyai bisnis penyediaan jasa melalui jaringan komunikasi broadband communication network (pita lebar) dan pendistribusian sinyal elektronik melalui jaringan tersebut.  Produk First Media tersebut berupa jasa layanan penyediaan televisi berbayar  seperti tv kabel dan internet.

Telkom operasikan infrastruktur ICT kelas dunia

131021-01d

KTT APEC 2013 telah usai digelar di Denpasar, Bali.  PT PT Telekomunikasi Indonesia mendukung penyelenggaraan APEC itu  dengan mengoperasikan jaringan infrastruktur ICT kelas dunia.

Menurut Direktur Utama Telkom Arief Yahya penyelenggaraan APEC 2013,  pihaknya menyediakan infrastruktur ICT yang meliputi S–T–A  yakni Switching (perangkat penghubung jalur komunikasi),  Transmission (SatelliteFiber Optic darat dan laut serta Radio), dan Access (sekitar 1.500 Access Point, 1.260 Base Tranceiver Station dan 6 unit Mobile Wifi).

sedangkan untuk Access,  Telkom menyediakan spare part on site.

Keseluruhan infrastruktur yang tersedia menghasilkan layanan yang dapat dikelompokkan dalam V–I–P (ViewInternetPhone).  Untuk layanan View,  Telkom menyiapkan TV Pool melalu penyediaan 7 unit Mobile Satellite News Gathering (SNG),  video streaming, dan Closed Circuit Television (CCTV).

Untuk layanan internet,  Telkom menghadirkan konektivitas yang andal dengan bandwidth 2×10 Gbps,  Mobile Broadband Telkomsel,  dan WiFi di seluruh venue APEC 2013.  Sementara untuk layanan voice,  Telkom hadirkan berbagai layanan 3Glive trial 4G,  SLI dan telepon.

Telkom menyediakan layanan dan fasilitas telekomunikasi dengan jangkauan yang cukup luas yang mampu mencakup lima lokasi utama yaitu Media center,  Akomodasi hotel,  Security,  International airport, dan Venue (M-A-S-I-V).  Selain membangun jaringan,  Telkom sebagai alternate member APEC Business Advisory Council (ABAC) Indonesia juga menjadi Host Sponsor APEC CEO’s Summit 2013.

Untuk kesiapan jaringan,  Telkom telah membangun minimal 3 jalur transmisi broadband yang berbeda untuk menjamin ketersediaan dan kehandalan akses internet.  Dengan demikian,  apabila terjadi gangguan pada salah satu jalur,  maka tetap tersedia cadangan untuk menjamin konektivitas. (Diolah dari berbagai sumber seperti tender-indonesia.com)

Advertisement

Tulis Opini Anda