EKSPANSI

Hubungan Bisnis Malaysia-Indonesia Kian Berkibar

0
27
Bendera Indonesia dan bendera Malaysia. (Sumber foto: http://www.freedistrict.com/)

Telkom menggarap remmitance business. Malaysia meminati pertanian dan pabrik karet di Indonesia. PLN sedang membangun interkoneksi kelistrikan Sumatera-Malaysia dan Kalimantan-Sabah. Sumitomo Corp (Jepang) menambah investasi di  Malaysia setelah melepas sahamnya di Inalum.

Bendera Indonesia dan bendera Malaysia. (Sumber foto: http://www.freedistrict.com/)
Bendera Indonesia dan bendera Malaysia. (Sumber foto: http://www.freedistrict.com/)

Meski Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal sering didepak dari Malaysia, jumlah TKI yang bekerja secara resmi di Malaysia mencapai lebih  3 juta (formal dan informal) dan keadaan itu  merupakan potensi bisnis yang besar bagi  PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom). Telkom pun mengembangkan bisnisnya di Malaysia dengan memanfaatkan kebiasaan para TKI yang mengirimkan uang ke tanah air dan jumlahnya, fantastis angkanya mencapai Rp18 triliun setiap tahun.

Pengiriman uang itu merupakan lahan remmitance business yang difasilitasi oleh Telkom. Bayangkan, jika Telkom mengenakan tarif pengiriman, sebutlah Rp5000 atau 10 ribuan rupiah untuk tiap sekali transfer, Telkom tinggal menampung belasan miliar sales turn over dari para TKI yang bekerja di Malaysia.

Advertisement

Selain itu, Telkom berpotensi menggarap lebih  2 juta pelanggan dari TKI di Malaysia —meniru i produk kartu Halo yang ditawarkan Telkomsel sejak lama. Para TKI di Malaysia, kabarnya sangat suka lagu dangdut, dan tentu saja kebiasaan itu dimanfaatkan oleh Telkom dengan berinovasi teknologi. Lagu-lagu dangdut dijadikan sebagai ring tone atau dalam bentuk diversifikasi lain untuk menarik minat para calon pelanggan.

Kita angkat jempol pada Telkom yang mulai sukses membuktikan salah satu ambisinya, go global—artinya Telkom luput dari sebutan: jago kadang.  Sebelumnya, Telkom telah sukses melakukan ekspansi bisnis  di Hong Kong, Timor Leste, Australia, dan pasar internasional lainnya.  Harap dicatat bahwa beberapa negara di Timur Tengah juga banyak mempekerjakan ribuan TKI yang tentu saja diincar oleh Telkom.

Kepada para wartawan, Direktur Utama Telkom, Arief Yahya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dipimpinnya itu  terus mendalami penetrasi seluler di Malaysia yang demikian tinggi yakni sekitar 165 persen—jauh  lebih tinggi dari peneterasi di Indonesia. Oleh karena itu, Telkom sedang berusaha agar bisa masuk melalui mobile virtual network operator (MVNO) seperti yang dilakukannya di Hongkong.

Lebih jauh, Arief  menjelaskan jika Telkom bisa mendapatkan layanan connectivity untuk customer retail yang besar itu, maka Telkom akan bisa mengkapitalisasinya. Fokus Telkom adalah para TKI sehingga isi konten disesuaikan dengan kebutuhan dan  kegemaran orang Indonesia yang bekerja  di Malaysia. Contohnya, lagu-lagu dangdut bisa menjadi salah satu konten yang sangat disukai oleh para TKI  di Malaysia.

Selain memanfaatkan potensi perdangan  seperti bisnis pengiriman uang (remmitance) sebesar Rp18 triliun per tahun, Arief Yahya menjelaskan bahwa average revenue per user (ARPU) di Malaysia cukup tinggi yang mencapai US$20. Dengan mendapatkan pelanggan khususunya para TKI yang  jumlahnya mencapai lebih dari 3 juta, Telkom berpotensi menciptakan 2 juta pelanggan—layaknya kartu Halo Telkomsel yang ARPU-nya sangat besar.

Interkoneksi kelistrikan Kalimantan-Sabah dan Sumatera-Malaysia

Salah satu BUMN lainnya, yakni PT PLN (Persero) juga menjalin kerjasama bidang kelistrikan dengan perusahaan  Sabah Electricity Sdn Bhd  (SESB) Malaysia.  Dokumen memorandum of understanding  (MoU)  telah ditandatangani oleh Direktur Utama PLN, Nur Pamudji dan  Hj Abd Razak Sallim Managing Director SESB di kota Kinabalu, Sabah, Malaysia belum lama ini.

 

Menurut Nur Pamudji setelah penandatanganan MoU itu terbuka kemungkinan kerja sama beberapa bidang bisnis yang menguntungkan kedua belah pihak—termasuk interkoneksi Kalimantan Utara dengan Sabah. Kerja sama SESB dan PLN itu juga merupakan salah satu langkah dalam menuju ke integrasi jaringan ASEAN utamanya menghadapi perwujudan ASEAN Economics Community tahun 2015.

Untuk menyiapkan kerja sama itu sebaik mungkin, PLN dan SESB melakukan studi bersama agar wujud interkoneksi yang saling menguntungkan—terutama antara Kalimantan Utara dan Sabah. Melalui kerja sama itu terbuka peluang untuk dibangunnya pembangkit listrik skala besar di Kalimantan Utara. Energi listrik yang dihasilkan sebagian besar digunakan untuk keperluan domestik dan sebagian digunakan oleh Malaysia.

Dengan demikian, pembangunan pembangkit listrik di Kalimantan Utara tidak harus dimulai dari pembangkit skala kecil karena menyesuaikan dengan kebutuhan domestik yang masih kecil, tapi bisa langsung ke skala besar sehingga lebih ekonomis dan lebih andal. Kondisi itu merupakan kesempatan besar untuk memajukan pembangunan kelistrikan di Kalimantan Utara.

Nur menjelaskan, sistem kelistrikan di Sabah mempunyai karakteristik beban puncak pada siang hari, sedangkan sistem PLN di Kalimantan Utara memiliki beban puncak pada malam hari. Oleh karena itu, kedua kondisi itu dapat disinergikan untuk keuntungan dua belah pihak melalui interkoneksi kedua sistem kelistrikan.

SESB merupakan salah satu perusahaan listrik di Malaysia yang mengelola kelistrikan di Sabah. Perusahaan ini dimiliki oleh kerajaan Sabah dan Tenaga Nasional Berhad (TNB), perusahaan listrik terbesar di Semenanjung, Malaysia.

Sementara itu, PLN sedang membangun interkoneksi kelistrikan Sumatera-Malaysia yang  menargetkan kajian mengenai interkoneksi Sumatera-Malaysia bisa selesai Juni 2014. Dengan demikian, perseroan menargetkan interkoneksi Sumatera-Malaysia dapat diwujudkan pada tahun  2018.

Direktur Perencanaan dan Afiliasi PLN Murtaqi Syamsuddin mengatakan, manajemen PLN sedang dalam tahap menyelesaikan kajian proyek interkoneksi Sumatera-Malaysia. Kajian tersebut meliput pengerjaan tambang batubara serta pembangunan pembangkit dan kabel transmisi.

140130-02b

Murtaqi  menambahkwan, setelah Juni 2014, PLN akan memutuskan mengenai model bisnis dan pendanaan yang diterapkan pada proyek kelistrikan itu.

Baca juga :   Sumber Energi yang Lebih Efisien

Proyek interkoneksi Sumatera-Malaysia bersama PLTU mencapai  2.000 megawatt (MW) dan tambang batubara Peranap akan dikerjakan PLN bersama PT Bukit Asam (Persero) dan Tenaga Nasional Berhad. Nilai proyek ini diperkirakan mencapai Rp15 triliun.

Rencananya, PLN, TNB, dan PT Bukit Asam akan membentuk perusahaan patungan untuk masing-masing proyek. Murtaqi mengakui, sampai saat ini belum ada kesepakatan di antara ketiganya terkait model bisnis proyek bersama ini. Ketiganya juga belum menentukan berapa besaran saham masing-masing pihak di perusahaan patungan nanti.

Kebutuhan aluminum meningkat di Asia

Sementara itu, prediksi kebutuhan bahan baku aluminium terus meningkat di negara-negara Asia. Hal itulah yang membuat manajemen Sumitomo Corporation—perusahaan Jepang yang baru melepaskan semua sahamnya di Inalum Asahan kepada Indonesia (Oktober 2013)—menambah investasi US$140 juta di proyek pemurnian dan pengolahan aluminium milik Press Metal Bhd perusahaan aluminium terbesar di Malaysia. Penambahan investasi itu bertujuan untuk memanfaatkan momen peningkatan permintaan aluminium di Asia.

Dengan penambahan investasi itu, Sumitomo  memiliki saham 20 persen di pabrik Samalaju yang dikelola Press Metal Bhd. Pabrik Samalaju memiliki kapasitas 320 ribu ton aluminium yang beroperasi pada Desember 2013.

Investasi baru US$140 juta itu menambah US$71 juta yang telah digelontorkan oleh Sumitomo di  pabrik Mukah milik Press Metal Bhd tahun 2010. Pabrik tersebut berkapasitas 120 ribu ton aluminium. Perusahaan dari negeri Sakura ini ingin mencicipi keuntungan dari bisnis aluminium. Maklum, aluminium merupakan bahan baku utama untuk industri kedirgantaraan, perkapalan, otomotif, properti,  dan perkakas perkantoran yang terus meningkat di negara-gara di Asia termasuk Indonesia.

140130-02c

Sumitomo Corp yang membawahi Sumitomo Chemical Company Ltd dan Sumitomo Shoji Kaisha Ltd—sebelumnya tergabung dalam konsorsium Jepang, Nippon Asahan Aluminium yang mengelola PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memiliki saham 58,87 persen di Inalum. Konsorsium Jepang itulah yang menguasai Inalum dan telah melepaskan kepemilikannya kepada Indonesia pada  31 Oktober 2013. Kepemilikan saham Inalum kembali menjadi 100 persen milik Indonesia.

Berinvestasi di Indonesia sungguh menarik bagi investor asing mengingat potensi  bahan baku dan pasar (konsumen) demikian besar. Sayangnya, total investasi di Indonesia masih kalah dibanding total investasi di Malaysia. Total investasi yang masuk ke Malaysia pada tahun 2012 mencapai RM139,5 miliar atau sekitar  Rp418,5 triliun yang bertumbuh sebesar 24,8 persen dari tahun 2011, yaitu senilai Rp335,4 triliun. Sementara itu,  Indonesia pada tahun 2012 , total investasi asing hanya Rp323 triliun atau 30 persn kenaikannya dari tahun 2011.

Kenapa Malaysia lebih menarik bagi peisnis asing ketimbang Indonesia?  Abra Puspa Ghani Talattof  dari Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan bahwa lingkungan bisnis yang kondusif dan atraktif di Malaysia lebih diakui oleh berbagai lembaga internasional. Jumlah penduduk Indonesia delapan kali lebih banyak dari jumlah penduduk Malaysia. Demikian pula  luasan wilayah Indonesia enam kali lebih luas dari luas wilayah Malaysia. Para pihak terakit di Indonesia semestinya memerhatikan pendapat  Bank Dunia yang mengatakan, bahwa  Indonesia mempunyai banyak sekali kekalahan dari Malaysia seperti prosedur izin usaha, domisili, urusan pajak, dan sebagainya.

Malaysia ekspansi ke Indonesia

Industri otomotif yang terus bertumbuh di Indonesia menarik bagi Kossan Rubber Industries Bhd., perusahaan yang memoroduksi sarung tangan karet  di Malaysia. Industri otomotif tentunya melihat indikator  penjualan mobil yang cukup menjajikan di Indonesia. Oleh karena itu, produsen produk olahan karet itu berencana membangun pabrik dengan nilai investasi RM10 juta. Pabik itu direncanakan di salah satu  kawasan di Jakarta.

Menerut  Edward Yip general manager pengembangan usaha Kossan Rubber Industries,  pabrik karet itu direncakan  di atas lahan seluas 2,2 hektare yang harganya mencapai RM6,6 juta. Setelah lahan pabrik disiapkan, pembangunan konstruksi dimulai pada semester II 2014. Pabrik tersebut akan memroduksi komponen karet untuk sektor industri otomotif  yang semakin besar di Indonesia.

Para pebisnis dari Malaysia tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. Bidang lain—selain perkebenunan kelapa sawit—bidang pertanian yang meliputi padi, jagung, dan pertenakan sapi yang dikembangkan di pulau-pulau yang masih jarang atau tanpa penghuni di Indonesia.

Pada pertemuan dengan Menteri Pertanian Suswono di sela acara ASEAN Ministers Agriculture and Forestry Meeting, di Kuala Lumpur,  Malaysia, tahun 2013, Menteri Azas Tani dan Agro Industri Malaysia, Dato Sri Ismail Sabri bin Yakoob menjelaskan bahwa  Malaysia sangat berminat untuk investasi dalam produksi padi, jagung, dan sapi di Indonesia.

Malaysia memandang Indonesia adalah negara yang potensial untuk berinvestasi di bidang pertanian dan peternakan. Selain tanahnya subur, wilayah Indonesia juga sangat luas,  demikian Dato Sri Ismail. Ia menyebutkan, beberapa pulau-pulau kosong yang tidak berpenghuni milik Indonesia sangat potensial dikembangkan sebagai areal pertanian dan peternakan. (Tulisan diolah dari beberapa sumber seperti KONTAN, TEMPO.co, tender-indonesia.com, dan sebagainya)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda