BUATAN INDONESIA (1)

Habibie Rancang R-80 dengan Software Dassault Systems

0
48
B.J. Habibie menyaksikan mock up pesawat R-80 hasil rancangannya sendiri yang bakal mendunia. (Sumber foto/@: frontroll.com)

Grup Sriwijaya memesan 100 unit pesawat R-80 buatan PT Regio Aviasi Industri. Pesawat N-219 produksi Dirgantara Indonesia lebih hebat dari pesawat Kodiak buatan Amerika Serikat. N-219 mengudara saat Indonesia merayakan ulang tahun ke-70 tahun 2015.

B.J. Habibie menyaksikan mock up pesawat R-80 hasil rancangannya sendiri yang bakal mendunia. (Sumber foto/@:    frontroll.com)
B.J. Habibie menyaksikan mock up pesawat R-80 hasil rancangannya sendiri yang bakal mendunia. (Sumber foto/@: frontroll.com)

Masih ingat pesawat N-250 Gatot Kaca buatan IPTN yang berubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada era Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur? Saat N-250 mengudara pada tahun 1995, dunia menyaksikan kehebatan Indonesia. Pesawat N-250 itu adalah buatan putera-puteri terbaik di bawah didikan Prof.Dr. B.J. Habibie. Entah karena Habibie Presiden ke-3 itu dianggap bagian regim orde baru, sayap-sayap N-250 seolah dipatahkan pergantian regim pemerintahan. Pesawat N-250 itu terbang entah ke mana.

Masa lalu bisa redup ditelan zaman. Kerinduan menyaksikan hasil karya Habibie bakal terobati. Saat ini Habibie bersama puteranya, Ilham yang juga jago merancang/membuat pesawat terbang sedang menyelesaikan rancangan pesawat baru yang dinamai R-80. Pesawat R-80 dirancang di pulau Batam yang dapat dijangkau dengan kapal laut hanya 60 menit dari Singapura.

Advertisement

Badan Pengusahaan Batam mengalokasikan lahan seluas 62 hektar seagai tempat pembangunan kantor, hangar, maintenance, repair and overhaul (tempat perbaikan dan perawatan) di bawah manajemen PT Indonesia Aero Maintenance yang dikemudikan Habibie sebagai ketua dewan komisaris.

Usia senja bukanlah penghalang bagiHabibie untuk terus berkarya. Habibie tidak hanya berdiam menikmati masa pensiunannya. Rasa cinta kepada bangsa, negara, dan tanah airnya diwujudkan melalui karya teknologi pesawat terbang yang dikuasai oleh Habibie. Dia terus berkarya dan mencurahan seluruh kemampuannya sehingga jejak-jejak sejarah yang ditorehekan tetap dapat kita ikuti terutama generasi penerus. Bersama salah satu puteranya, Dr. Ilham Habibie mendirikan PT Regio Aviasi Industri (RAI) perusahaan rancang bangun dan subkontraktor pesawat terbang  yang berlokasi di Batam.

RAI adalah perusahaan di bawah PT Ilthabi Rekatama dan PT Eagle Capital milik BJ Habibie. Untuk menyiapkan produksi R-80, manajemen menggandeng Gubernur Jawa Barat dan manajemen PT Dirgantara Indonesia yang juga didirikan oleh Habibie ketika menjabat Menteri Riset dan Teknologi dan Kepala BPPT. Ketika pesawat N-250 mengudara tahun 1995, B.J. Habibie menjabat direktur utama IPTN.

Menurut Ilham Habibie Komisaris PT RAI pesawat canggih itu diproduksi di kawasan pabrik milik PT DI. Merupakan kebanggaan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT DI dilibatkan pada proses manmufakur (produksi) pesawat R-80 canggih itu. Ketiga pihak telah menyepakati komposisi saham yang diperankan oleh pribadi (perseorangan), perusahaan, dan koperasi.

Gunakan software buatan Prancis

Ilham menuturkan bahwa pesawat R-80 mampu mengakut 80 orang penumpang sehingga cocok digunakan di Indonesia wilayah Timur Indonesia seperti Papua, Maluku, Ambon,Halmahera yang infrastruktur transportasi laut/maritim dan darat masih terbatas. R-80   mampu melesat tinggi di atas 20.000 kaki. Ilham menuturkan biaya pembuatan satu unit pesawat berkitar US$500.000 hingga US$700.000 untuk membiayai proses rekayasa (engineering), prototipe, dan pengujian pesawat terbang yang dilakukan di darat dan udara.

Desain pesawat R-80 rancangan Prof. Dr. B.J. Habibie dan puteranya Dr. Ilham Habibie.
Desain pesawat R-80 rancangan Prof. Dr. B.J. Habibie dan puteranya Dr. Ilham Habibie.

Sebelum merekayasa pesawat R-80, Dr. Ilham Habibie telah menanda tangani kerja sama dengan perusahaan 3DEXPERIENCE pemilik Dassault Systemes yakni perangkat lunak (software) yang menyediakan solusi PLM  yang telah berpengalaman selama lebih dari 25tahun sebagai penyediaaplikasi industri 3D Aerospace& Defence (A & D)–pendukung setiap langkah industri teknologi dan bisnis evolusi, dari 2D ke desain 3D dengan digitalmock-up.

Baca juga :   Batu Ampar Port Needs Upgrade to Lure Investors

Dengan platform3DEXPERIENCE yang mampu mentransformasikan perubahan cara inovasi yang hasilnya menguntungkan para konsumen karena telah terkoneksi dengan para desainer,insinyur, manajer pemasaran, dan bahkan konsumen.Penggunaan 3D merupkan inovasi yang memungkinkan para pemangku kepentingan perusahaan untuk berpartisipasi dalam proses inovasi, meningkatkan nilaibagi konsumen akhir.

Sriwiajaya Pesan 100 unit pesawat R-80

Prospek bisnis pesawat komersial sungguh menjanjikan di Indonesia dan wilayah ASEAN. Menurut Pak Habibie wilayah Indonesia yang demikian luas dan terdiri dari lebih 17.600 pulau tidak bisa hanya dihubungkan dengan kapal laut, kereta api, mobil, atau kendaraan darat lainnya. Pesawat terbang sangat bermanfaat untuk kondisi geografis di Indonesia. Populasi penduduk di Indonesia pun terus bertambah yang tentu membutuhkan transportasi udara dan bukan hanya transportasi darat dan laut.

Pak Habibie pun berharap agar PT DI kembali berjaya seperti ketika dia memimpin perusahaan pelat merah itu. Satu-satunya cara untuk kembali berjaya, demikian Habibie, Indonesia harus memroduksi pesawat terbang sendiri. Bukan hanya Pak Habibie merasa senang setelah pesawat R-80 dipesan dua maskapai swasta yakni grup Sriwijaya Air dan Nam Air yang telah memesan 100 pesawat R-80 sedangkan perusahaan Kalstar memesan 25 pesawat unit. Pak Habibie termasuk yang jago memasarkan produk buatannya.

Menurut Presiden Direktur PT RAI Agung Nugroho pihaknya telah menandatangani letter of intent (LoI) dengan maskapai Nam Air dan Kalstar. Untuk itu, PT RAI mengiinvestasikan modal sebesar satu miliar dolar AS. Setelah rancang bangun R-80, PT RAI bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia untuk mengembangkan pesawat tersebut. Berapa harga pesawat R-80? Baik Agung dan Ilham belum bersedia menjelaskan harga pesawat R-80 yang menggunakan baling-baling turbo agar konsumsi bahan bakar dapat lebih efisien.

Pesawat R-80 mempunyai keunggulan karena dapat dikendalikan secara elektronik, dan teknologi terbaru yang terdapat pada baling-baling agar sayap dapat menentukan angin dingin dan angin panas dari mesin sehingga pesawat mampu terbang dengan kecepatan tinggi.

Kita tunggu pesawat R-80 mengudara pada tahun 2016 atau paling lambat tahun 2018. Semoga Pak Habibie selalu sehat. (Diolah dari berbagai sumber)

Simak artikel terkait dengan topik buatan indonesia (2)
Bandung Siapkan Pesawat Komersial N- 219

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda