ENERGI TERBARUKAN (2)

Green Energy Isi Baterei Mobil dan Pemanas

0
6
Gambar rangkaian sebuah silinder penyimpanan air panas membalikkan proses normal yang dilengkapi dengan boiler pemanas air yang disalurkan melalui keran menuijui tempat penyimpanan. (Sumber foto/@: www.greenspec.co.uk)

Perkembangan teknologi lebih rumit; kita tidak dapat tahu apa yang akan terjadi dengan teknologi baterei. Apakah produksi metana sintetis akan terus berkembang?

Gambar rangkaian sebuah silinder penyimpanan air panas membalikkan proses normal yang dilengkapi dengan boiler pemanas air yang disalurkan melalui keran menuijui tempat penyimpanan. (Sumber foto/@: www.greenspec.co.uk)
Gambar rangkaian sebuah silinder penyimpanan air panas membalikkan proses normal yang dilengkapi dengan boiler pemanas air yang disalurkan melalui keran menuijui tempat penyimpanan. (Sumber foto/@: www.greenspec.co.uk)

Green energy yang dihasilkan bukan hanya akan digunakan untuk mengoperasikan alat elektronik yang memerlukan daya kecil, tapi juga dapat untuk mengisi baterai mobil dan pemanas ruangan lewat pompa panas.

“Dengan adanya kemungkinan di masa depan terjadi kelebihan produksi listrik yang bisa diperbaharui, kami pikir akan ada kesempatan juga untuk menjangkau konsumen lainnya,” ungkap Andreas Palzer.

Advertisement

Para peneliti memperkirakan perluasan jaringan distribusi panas yang cukup besar digabungkan dengan gudang penyimpanan panas berskala besar. Sedangkan implementasi penyediaan listrik utama dari gabungan pembangkit listrik dan panas akan dapat menghangatkan gedung di tempat padat penduduk.

Gragfis di bawah ini menggambarkan sumber-sumer energi:

150211-15b
Total biaya tahunan untuk operasi dan pemeliharaan seluruh sistem energi rata-rata Euro173 miliar, dan pengeluaran yang besar pada tahun tunggal mencapai Euro45 miliar, biaya renovasi bangunan agar ongkos energi lebih efisiensi. (Sumber data: Fraunhofer ISI, Energie-systeme Deutschland 2050/Grafis: Vierthaler Braun)

 

Pada tahun 2050, untuk melayani kebutuhan akan panas, penyedia terbesar adalah menggunakan pompa panas, yaitu sekitar 40 persen; sistem pemanas matahari, 20 persen. Cogeneration plants dan boiler rumahan akan menyumbang kurang dari 17 persen.

Bakar fosil menurun drastis

Target perlindungan iklim yang ambisius ini hanya bisa dicapai jika gedung-gedung membutuhkan lebih sedikit energi untuk pemanasan atau pendingin, yang pada akhirnya akan bergantung pada ketersediaan strategi hemat biaya untuk merenovasi bangunan-bangunan dan membuatnya lebih efisien energi.

“Solusi yang memungkinkan termasuk penggunaan lebih luas bahan bangunan yang sudah dibuat, yang sekaligus dapat menghemat biaya secara signifikan untuk proyek renovasi. Dan juga penggunaan material baru yang murah,” jelas Profesor Henning.

Poin lain yang didapatkan dari simulasi tersebut adalah begitu ketersediaan bahan bakar fosil menurun drastis, kebutuhan bahan bakar sintetis akan naik. Hidrogen dan metana adalah contoh bahan bakar yang dicari, dan keduanya dapat diproduksi menggunakan listrik yang dihasilkan pleh sumber yang bisa diperbarui.

Titik yang membedakan keseimbangan ini adalah satu sisi ditentukan oleh tingkat konsumsi bisa dikurangi sampai seberapa besar secara individu. Dan di sisi lainnya ditentukan oleh keberhasilan untuk membujuk para pengemudi untuk beralih ke mobil elektrik atau berbahan bakar hidrogen.

Berapa harga yang harus dibayar untuk mengurangi gas efek rumah kaca? “Tentu saja harganya mahal di awal, tapi kita akan menuai hasilnya nanti,” tutur Hans-Martin Henning.

Baca juga :   Sengatan Matahari Berkat bagi Kita

“Setelah perpindahan di sektor penyedia listrik berhasil dilakukan, total biaya energi tahunan untuk ekonomi nasional akan sebanding dengan hari ini. Tapi, jika penyedia listrik masih menggunakan pola yang sama seperti sekarang, biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar, itu karena biaya energi global akan terus menanjak dalam waktu menengah dan panjang.”

Meramal harga-harga di masa depan bukanlah hal mudah. “Dalam hal teknologi, bukti yang kami miliki sangat kokoh,” menurut Profesor Henning. “Tapi dengan memperhitungkan biaya, akan sulit untuk melihat ke masa depan. Bahan bakar minyak, bisa diasumsikan akan naik 2 persen per tahun. Bagaimana teknologi berkembang lebih rumit lagi; contohnya kita tidak dapat tahu apa yang akan terjadi dengan teknologi baterei, atau apakah produksi metana sintetis akan terus berkembang.

”Para peneliti mengembangkan berbagai macam model untuk menghitung bahan bakar fosil yang berbeda-beda, menghitung variasi distribusi photovoltaics dan energi angin atau deviasi pengembangan sektor mobilitas.

Hasil simulasi tersebut telah mengundang banyak perhatian dari kalangan profesional. “Banyak perusahaan yang tertarik mencari tahu bagaimana mereka dapat menyesuaikan protofolio untuk menjawab perubahan,” menurut manager proyek. pengadaan listrik dan panas. Para pakar politik juga mulai menyadarinya.

“Kami menerima banyak undangan untuk mempresentasikan ini di berbagai konferensi sejak hasil penelitian kami dipublikasikan pertama kali di tahun 2012,” lapor para peneliti. “Kami diundang untuk memberikan informasi di berbagai acara, mulai dari workshop yang diselenggarakan oleh Kementrian Lingkungan sampai rapat direksi perusahaan.”

Karena banyak perusahaan yang tertarik bukan hanya terhadap hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2050, tapi juga bagaimana cara mencapainya, para ilmuwan ISE ingin memperluas model yang mereka buat menjadi ikhtisar langkah-langkah transformatif pertengahan yang menuju perubahan iklim impian. (Bahan diolah dari Protecting the climate pays off tulisan Brigitte Rothlein, Fraunhofer)

Simak artikel terkait dengan topik ENERGI TERBARUKAN (1)
Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca

Advertisement

Tulis Opini Anda