Garansi Tagihan Listrik Pasti Turun dari ESCO Profesional

0
6

– Pola Kerja Sama ”Zero Investment” Jadi Pilihan Favorit

Melonjaknya tagihan listrik akibat kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak) mendorong manajemen perusahaan mencari solusi peng-hematan energi. Sementara itu, banyak perusahaan penyedia solusi hemat energi yang bermunculan dan menawarkan jasanya, namun jarang yang berani memberi garansi tagihan listrik pasti turun bahkan membayar kompensasi bila garansi tidak tercapai.


Advertisement

Boleh dibilang Indonesia sudah cukup terlambat mengaplikasikan peralatan-peralatan penghemat energi bila dibandingkan dengan negara-negara seperti Jepang, Inggris, atau Amerika Serikat (AS) yang sudah sejak tiga puluh tahun lalu melakukannya. Tetapi, hal itu tidak bisa disalahkan, sebab selama ini harga energi,  seperti bahan bakar minyak (BBM) dan listrik,  relatif murah karena mengandalkan sumberdaya alam yang melimpah dan subsidi pemerintah. Namun, seiring dengan menipisnya kekayaan alam itu dan pencabutan subsidi di sektor industri oleh pemerintah, membuat harga energi melambung. Sekarang, tagihan listrik mulai membengkak sehingga tak sedikit pengelola perusahaan yang cukup kewalahan menghadapinya.

Untungnya sudah banyak bermunculan perusahaan-perusahaan yang khusus bergerak dalam bidang solusi penghematan energi, atau lebih populer dengan sebutan ESCO (Energy Saving Company), yang menawarkan jasa penurunan tagihan listrik baik di sektor industri maupun gedung. Salah satu di antaranya adalah KSLA Energy & Power Solutions, yang merupakan group dari Schneider Electric, sebuah perusahaan terkemuka dunia di bidang power dan kontrol. ESCO yang sudah 20 tahun lebih berkecimpung dalam bidang energy saving di Malaysia, Singapura dan Thailand ini, sejak 2006 lalu, mulai melebarkan sayapnya ke Indonesia yang memang sedang membutuhkan solusi penghematan energi sebagai buntut kenaikan harga BBM.

Menghilangkan wasted dan unnecesary energy
Menurut Laurent JS Girimukti, Bussines Development Manager untuk Energy Saving & Power Solutions PT Schneider Indonesia, di dalam area mana pun baik di pabrik atau di gedung selalu ada energi yang terbuang (wasted dan unnecessary energy) yang disebabkan oleh adanya oversupply. Sebagai contoh, katanya, travo dengan kapasitas 600 kVA yang dipasang padahal aktual kebutuhan daya hanya 400 kVA, sehingga terjadi wasted energy. Penentuan dalam setpoint juga bisa mengakibatkan wasted dan unnecessary energy. Misalnya kompresor untuk kebutuhan produksi hanya 5 bar, tapi diset maksimum pada 7 bar.
Sayangnya, hal itu tidak banyak diketahui oleh manajemen perusahaan. “Banyak sekali bos-bos baik di area industri maupun perhotelan yang tidak percaya bahwa ada wasted dan unnecessary energy di area mereka. Karena apa? Karena mereka tidak melihat itu. Tidak seperti air, kalau ada pemborosan terlihat, kalau listrik tidak. Ini yang membuat mereka tidak sadar bahwa ada wasted dan unnecessary energy,” jelas Laurent.

Dan jumlah energi yang terbuang itu cukup signifikan, bisa berkisar 20 persen bahkan lebih. Jika tagihan listrik setiap bulan mencapai Rp500.000.000, misalnya, bisa dibayangkan berapa banyak uang yang terbuang jika wasted dan unnecessary energy ini mencapai 20 persen.
Hal inilah yang hendak dihilangkan oleh ESCO. Selain itu, dengan ESCO juga, bisa dilakukan penyempurnaan terhadap motor, sehingga konsumsi energinya menjadi lebih efiisien.

Menurut Laurent, selama ini sudah banyak juga perusahaan yang melakukan energy saving secara internal, misalnya dengan mematikan lampu atau menghidupkan AC hanya saat kerja saja dan pada jam istirahat dimatikan. Namun, jumlah yang dihemat relatif kecil karena konsumsi energi di bidang itu memang kecil. Sementara yang menyedot energi lebih besar adalah motor dan trafo, dan untuk melakukan penghematan di bidang itu bukan saja keahlian tinggi yang dituntut, tapi juga pengalaman agar tidak menyebabkan timbulnya gangguan pada produktivitas.

“Energy saving melibatkan banyak ilmu pengetahuan. Tidak cukup dengan elektrikal saja, tapi juga mechanical system, magnetik, dan lain-lain, sehingga tidak mungkin perusahaan mengharapkan karyawan sendiri untuk melakukannya. Apalagi mereka bukan yang dedicated. Itulah sebabnya dibutuhkan profesional ESCO,” jelas Laurent.

Lebih jauh Dr Richie Lee Kink Ting, Managing Director KSLA, mengatakan, umumnya ada dua pendekatan dalam energy saving, yaitu pendekatan proses dan pendekatan produk. Pendekatan proses dilakukan dengan cara mengubah proses sedemikian rupa sehingga bisa terjadi penghilangan atau penambahan proses guna mencapai saving. Sementara pendekatan produk adalah dengan memasang produk pada motor yang kemudian menghasilkan saving. Dengan pendekatan kedua ini, tidak ada proses yang  diubah, sehingga lebih mudah dan tidak mengganggu produktivitas.

Baca juga :   Teknologi Surface: Treatment Atasi Kelemahan Material

Menurut Laurent, besarnya penghematan yang dihasilkan sangat bervariasi dan tergantung pada motor dan solusi yang yang digunakan. ”Masing-masing motor mempunyai karakteristik yang berbeda dan mempunyai wasted dan unnecessary energy yang berbeda pula. Selain itu, besarnya penghematan juga tergantung pada solusi yang dipakai. Jadi berbeda equipment berbeda solusi juga. Tetapi secara umum antara 8 sampai 25 persen bahkan ada juga yang bisa sampai 50 persen,” katanya.

Jaminan tagihan listrik pasti turun
Menurut Laurent, dalam memberikan solusi total energy saving kepada customer, selama ini pihaknya menawarkan tiga hal, yaitu saving garansi, saving verifikasi, dan saving kompensasi. Saving garansi adalah jaminan bahwa akan ada fix saving yang diperoleh klien setiap bulannya. “Setelah klien mengisi motorlist yang kami sediakan, kami akan melakukan survei ke lokasi. Dari hasil survei itu kami bisa menentukan berapa fix saving yang akan dihasilkan,” ujarnya.
Kemudian saving verifikasi  adalah  pengukuran terhadap benar-tidaknya ada saving. “Jadi saving verifikasi adalah bagaimana kita melakukan verifikasi. Bagaimana kita melakukan pengukuran benar apa tidak saya menghemat? Maka kita ukur sama-sama dengan tim  klien  dengan memasang meter di motor yang bersangkutan sebelum dan sesudah project, dan sama-sama diawasi. Dengan cara ini terbukti apakah ada penghematan atau tidak,” katanya.

Sementara saving kompensasi adalah kompensasi yang diberikan bila garansi tidak tercapai. “Misalnya kita sudah menggaransi saving 10 ribu dollar AS per bulan, ternyata suatu saat saving yang diperoleh di bawahnya atau hanya 9.000 dollar AS saja, maka kekurangan 1.000 dollar AS akan dibayarkan kepada klien sebagai kompensasi,” katanya.

Menurut Richie, pihaknya berani menawarkan seperti itu karena sudah memiliki pengalaman 20 tahun lebih dengan sebagian besar customer merupakan perusahaan-perusahaan raksasa, seperti Coca Cola, Sharp, Shimano, Hitachi Chemical, Japan Tobacco Industry, Nikko Hotel, Eastman Chemical, dan lain-lain. Dan selama inipun, jumlah penghematan yang dihasilkan selalu melebihi garansi, sehingga belum pernah sekalipun KSLA membayar kompensasi. Selain itu, katanya, peralatan (equipment) yang digunakan juga sangat menentukan hasil saving. Dengan jumlah peralatan yang jauh lebih banyak, KSLA bisa memberikan pilihan-pilihan untuk menghasilkan penghematan yang lebih besar.

“Saat ini, kami mempunyai 15 equipment. ESCO yang lain mungkin cuma memiliki satu atau dua saja, tapi Schneider mempunyai 15 pilihan. Jadi kalau diibaratkan seperti seorang dokter  yang memiliki banyak  obat untuk setiap penyakit yang berbeda. Jadi equipment juga seperti itu, banyak pilihan. Dengan pilihan equipment seperti ini dihasilkan reduce pembayaran listrik,” tambah Laurent.

Kemudian, equipment yang digunakan juga sudah terbukti kualitasnya. Selama ini,  pihaknya selalu menggunakan produk yang berasal dari negara-negara yang sudah memiliki pengalaman 20 tahun,  yaitu AS, Jepang dan Inggris. Produk dari ketiga negara itu sudah terbukti dan sukses digunakan dalam penghematan energi.

“Kita perlu menggunakan produk berkualitas tinggi. Karena kalau tidak, justru akan merusak motornya. Tapi dengan menggunakan produk-produk yang high quality itu, hasilnya akan lebih sukses,” tambah Laurent.

Zero investment
Menurut Laurent, dalam melayani customer, pihaknya menawarkan dua bentuk kerja sama, yaitu direct investment dan zero investment. Pola direct investment sama seperti yang sudah biasa, yaitu customer menandatangani kontrak, bayar DP (down payment), lalu payback period-nya bisa 2-2,5 tahun. Sedangkan pola zero investment, customer tidak perlu mengeluarkan biaya. Setelah kontrak disetujui, KSLA memasang peralatan. Setelah proyek berjalan dan customer mendapat penghematan, baru dilakukan pembayaran. Dan pembayaran tersebut diambil dari hasil penghematan yang diperoleh. Pada akhir kontrak, produk yang sudah terpasang menjadi milik customer.

Sejauh ini, kata Laurent, pola kerja sama zero investment lebih menarik minat customer di Indonesia. ”Kebanyakan  lebih memilih zero investment karena tidak ada budget yang harus keluar,” katanya.

Menurut Laurent, animo pengusaha  Indonesia terhadap energy saving sangat besar. Hal ini terlihat saat pihaknya mengadakan seminar yang melibatkan asosiasi pengusaha, seperti Himpunan Kawasan Industri, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja di Indionesia, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Pinancius Limbong

Advertisement

Tulis Opini Anda