INDUSTRI BAJA & ALUMINIUM

Fosun Investasikan US$200 juta di Medan

0
6

Perusahaan asal China Fosun International Limited akan segera membangun pabrik baja dengan sistem kerja mesin tanur tinggi (blast furnace) di Medan,  Sumatera Utara.  Dana investasi yang ditanamkan mencapai US$200 juta sekitar Rp 1,94 triliun. Sementara itu, pemerintah mengambil-alih kepemilikan Inalum (Asahan) dari perusahaan milik Jepang senilai Rp7 triliun Oktober 2013.

130512-02a

Dirjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan,  perusahaan tersebut akan menggandeng anak usaha grup Gunung Garuda,  yakni PT Gunung Gahapi Sakti.  Keputusan perusahaan itu memilih lokasi di Medan, karena tersedia bahan baku iron ore (bijih besi) yang diperoleh dari Aceh dan Sumatera Barat.

Advertisement

Investasi itu akan direalisasikan melalui pembentukan perusahaan baru (joint venture).  Sedangkan kapasitas produksi pabrik dirancang dilakukan dalam dua tahun.  Pada tahap pertama, dana yang  diinvestasikan direncanakan mencapai US$100 juta untuk memproduksi 500 ton.  Selanjutnya pada tahap II,  kapasitas akan dikembangkan menjadi 1 juta ton dengan tambahan modal sebesar US$100 juta.

Investasi tersebut sejalan dengan program hilirisasi logam yang dicanangkan pemerintah Indonesia dan sesuai amanat UU No 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Mineral),  yang akan melarang ekspor bahan tambang mineral pada awal tahun 2014. Direncanakan  konstruksi yang dimulai tahun 2013 agar perusahaan dapat berproduksi komersial tahun 2014.

Pabrik tersebut akan mengolah bahan baku galian mentah mineral menjadi iron ore,  untuk memproduksi baja setengah jadi berbentuk panjang (billet) dan berbentuk pendek dan kecil (slab).  Selanjutnya,  billet dan slab akan dipasarkan sebagai bahan baku industri produk baja dan otomotif.

Pemerintah mengakuisisi Inalum  dari Jepang

130512-02b

Sementara itu, pemerintah menilai,   anggaran senilai Rp7 triliun cukup untuk membiayai akuisisi PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) produsen aluminium di Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara. Selama ini Inalum dikuasai oleh pihak Jepang.  Dana sebesar Rp7 triliun itu telah dianggarkan pemerintah dalam APBN 2012 dan APBN 2013.

Baca juga :   Dampak Bisnis Jembatan Selat Sunda Luar Biasa

Saat ini terdapat selisih perhitunagn nilai buku Inalum antara Indonesia dan Jepang senilai US$140 juta.  Perhitungan Jepang lebih tinggi dari versi pemerintah Indonesia.

Menteri Perindustrian MS Hidayat yakin anggaran yang telah disedikan dalam APBN sebesar Rp7 triliun cukup untuk mengambilalih Inalum,  kendati menggunakan perhitungan versi Jepang yang lebih mahal.

Dengan Rp7 triliun itu cukup—untuk ambil alih Inalum dengan nilai buku pihak Jepang. Sebagai pembeli ya harus dapat yang lebih murah dan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) juga harus setuju karena itu aset negara, demikian Hidayat.

Tim negosiasi sudah melakukan kunjungan ke Jepang untuk membicarakan pengambilalihan Inalum.  Menteri Hidayar berharap pemerintah dapat mengambilalih Inalum sesuai dengan nilai buku yang telah dihitung oleh BPKP.

“Dirjen saya sekarang sedang ada di Jepang untuk membicarakan (perhitungan) teknis. Ada selisih perhitungan,  itu yang sedang dibicarakan.  BPKP hitung nilai aset Inalum selama 30 tahun,  hitungan versi dia ada perbedaan nilai dan rumusan kalkulasi dengan pihak Jepang sekitar US$100 juta, jelas Hidayat.

Kontrak kerja sama dengan Jepang berakhir pada Oktober 2013 dan pemerintah sudahmemutuskan tidak akan meneruskan kontrak. Pemerintah memperkirakan nilai PT Inalum mencapai US$1,3 miliar.  Dengan demikian,  kebutuhan dana untuk mengambil alih Inalum diperkirakan sebesar US$723 juta. (Sumber: Diolah dari tender-indonesia.com)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda