TEKNOLOGI BERKELANJUTAN (1)

Fosil Kian Langka, Apa Solusinya untuk Masa Depan?

0
32
Gambar kikri mengilustrasikan kebutuhan populasi dunia yang terus bertumbuh dapat dipenuhi dengan melakukan perkembangan teknologi berkelanjutan. (Sumber foto/©: shutterstock). Sedangkan gambar kanan merupakan bahan mentah terbarukan seperti limbah kayu dan jerami menghasilkan bahan permulaan produksi yang penting untuk industri kimia. (Sumber foto/©: Fraunhofer IGB)

Industri kimia adalah contoh yang baik. Hingga saat ini, pabrikan deterjen, bahan perekat, cat atau kosmetik membutuhkan petroleum sebuah bahan kunci permulaan produksi.

Gambar kiri mengilustrasikan kebutuhan populasi dunia yang terus bertumbuh dapat dipenuhi dengan melakukan perkembangan teknologi berkelanjutan. (Sumber foto/©: shutterstock). Sedangkan gambar kanan merupakan bahan mentah terbarukan seperti limbah kayu dan jerami menghasilkan bahan permulaan produksi yang penting untuk industri kimia. (Sumber foto/©: Fraunhofer IGB)

Sumber daya penting seperti bahan logam dari alam, air bersih, tembaga, perak, emas, dan bahan lainnya yang akan menjadi langka. Jika kita ingin terus dapat memenuhi kebutuhan populasi dunia yang terus bertumbuh, kita harus lebih memperhitungkan bagaimana cara kita mengatur dan menggunakan bahan mentah yang berasal dari alam.

Kita dapat belajar dari salah satu lembaga yang melakukan penelitian yakni  Fraunhofer-Gesellschaft  di Jerman. Tim peneliti menghasilkan sebuah kontribusi penting untuk perkembangan berkelanjutan tentu saja bukan hanya  untuk kepentingan Jerman, juga kepentingan masa depan semua umat manusia termasuk kita di Indonesia.

Advertisement

Menurut tim peneliti, sebetulnya kita hidup dalam masa pinjaman: pada 22 Agustus, manusia telah mengonsumsi sumber daya alam yang telah dikalkulasi selama tahun 2015 saja–kurang dari delapan bulan, kita menggunakan lebih banyak air, makananan, energi, dan bahan mentah daripada yang dapat kita hasilkan kembali dalam setahun. Atau dengan bahasa lain, apa yang kita gali dari alam,kita justru meminjamnya dari generasi yang akan datang. Sungguh menakutkan jika kita tidak hati-hati.

Bagian yang paling menakutkan adalah peringatan tahunan deplesi yang menurut Global Footprint Network disebut Global Overshoot Day, menjadi lebih awal tiap tahunnya. Contohnya pada  tahun 2000, jatuh pada tanggal 1 Oktober.

Tidak usahlah berdebat tentang itu: kita tidak boleh memboroskan bahan mentah dan energi lagi pada masa depan. Nah, ini baru petanyaan, bagaimana kita menghadapi masa depan ketika semakin banyak dan banyak lagi manusia yang hidup di planet ini? Artinya populasi dunia terus bertambah melebihi 8 miliar. Ingat, penduduk Indonesia sudah lebih dari 260 juta.

Bayi manusia terus lahir setiap hari.   Oleh karena itu, satu pendekatan baru perlu kita lakukan untuk memproduksi banyak dari sumber daya yang kian menciut (makin berkurang). Pesan penting ini secara khusus berguna bagi negara yang minim bahan mentah seperti Jerman—juga Indonesia.

Oleh sebab itu,   pemerintahan federal Jerman menetapkan tujuan yang ambisius. Alasan pertama, untuk menggandakan produktivitas sumber daya (dibandingkan dengan tingkat  tahun 1994). Alasan lainnya, untuk meningkatkan produktivitas energi–yaitu, performa ekonomi keseluruhan per unit dari penggunaan energi dasar–100 persen pada tahun 2020 (dibandingkan dengan tingkat tahun 1990).

Produk kimia dari limbah kayu

Lembaga Fraunhofer (semacam Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia) mengembangkan solusi untuk penggunaan sumber daya yang bertanggungjawab beberapa dekade lalu.

Baca juga :   Pelacak Kerusakan pada Bahan

“Konsep ketahanan menyebar ke seluruh area penelitian di Fraunhofer; kesehatan dan lingkungan, keamanan dan perlindungan, komunikasi dan pengetahuan, mobilitas dan transportasi, bahan mentah dan energi serta produksi dan layanan,” kata Prof. Dr. Thomas Hirth, juru bicara Fraunhofer Sustainability Network dan direktur di Fraunhofer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology IGB.

Dengan berfokus pada ketahanan, Fraunhofer menaruh landasan penting untuk seterusnya, perkembangan berorientasi masa depan. Baik lingkungan dan ekonomi akan mendapat manfaat dari hasilnya. Industri kimia adalah contoh yang baik. Hingga saat ini, pabrikan deterjen, bahan perekat, cat atau kosmetik membutuhkan petroleum sebuah bahan kunci permulaan produksi.

Akan tetapi,  bahan bakar fosil menjadi sangat langka dan mahal. Bahan karbon alternatif terbuat dari bahan mentah agrikultur dan kehutanan, seperti tanaman yang menyuplai gula, pati atau selulosa. Dan untuk memproduksi bahan kimia dari sumber daya terbarukan, proses-proses baru dibutuhkan yang dapat dilakukan dalam skala industrial.

Pekerjaan itulah yang ditekuni oleh Fraunhofer Center for Chemical Biotechnological Processes (CBP) di Leuna, Jerman. Pusat tersebut berkolaborasi dengan berbagai perusahaan dalam industri kimia seperti sektor teknik mekanis dan sistem.

Potensi limbah kayu demikian besar, apa yang bisa kita perbuat dengan itu? (Bahan diolah dari Toward a sustainable future tulisan Birgit Niesing, Fraunhofer)

 

Simak TEKNOLOGI Berkelanjutan (2)
Penggunaan Holistik Limbah Kayu, Ini Rahasianya

Laporan Ketahanan

Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketahanan menjadi bagian makin penting dari strategi perusahaan Fraunhofer–Gesellschaft. Sejak awal 2009, 20 Institusi dan fasilitas Fraunhofer bersama membentuk jaringan ketahanan, bottom-up system yang memunculkan proses terstruktur. Betapa pentingnya isu ini bagi organisasi penelitian yang mendemonstrasikan laporan ketahanan yang sudah disajikan. Laporannya terdiri lebih dari 120 halaman berbasis pada tata cara G4 dari  Global Reporting Initiative (GRI). Ini menunjukkan aktivitas ketahanan pada tahun finansial 2013 dan menyediakan informasi tentang obyek dan pengukuran yang dilakukan secara sukarela sebagai komitmen Fraunhofer – Gesellschaft.

(Sumber: www.fraunhofwe.de/en/about-fraunhofer/sustainability.html)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda