INVESTASI

Ferrostaal Investasi Petrokimia Rp19 triliun di Papua Barat

0
4
Penanda tanganan Letter of Intent di Berlin, Jerman, 4 Maret 2013 (kiri ke kanan): Dr. Klaus Lesker Managing Director Ferrostaal GmbH dan Panggah Susanto Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian yang disaksikan oleh Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan M.S. Hidayat Menteri Kementerian Perindustrian. (Foto: Ferrostaal GmbH)

Perusahaan Ferrostaal  berinvestasi di Papua Barat. Managing Director Ferrostaal GmbH  Dr. Klaus Lesker dan Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto  menandatangani surat kerja sama bisnis di  Berlin, Jerman, pada 4 Maret 2013. Ferrostaal beroperasi di Indonesia sejak 50 tahun silam.

Penanda tanganan Letter of Intent di Berlin, Jerman, 4 Maret 2013 (kiri ke kanan): Dr. Klaus Lesker Managing Director Ferrostaal GmbH dan Panggah Susanto  Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian yang disaksikan oleh Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan M.S. Hidayat Menteri Kementerian Perindustrian. (Foto: Ferrostaal GmbH)
Penanda tanganan Letter of Intent di Berlin, Jerman, 4 Maret 2013 (kiri ke kanan): Dr. Klaus Lesker Managing Director Ferrostaal GmbH dan Panggah Susanto Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian yang disaksikan oleh Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dan M.S. Hidayat Menteri Kementerian Perindustrian. (Foto: Ferrostaal GmbH)

Acara penanda tanganan Letter of Intent itu disaksikan oleh MS. Hidayat Menteri Perindustrian dan  dan Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan kunjungan kenegaraan di Jerman awal Maret 2013.

Biaya pembangun pabrik petrokimia itu mencapai US$2 miliar atau lebih Rp19 triliun. Sedangkan lokasi pabrik berada di kawasan Teluk Bintuni,  Papua Barat—sesuai dengan rencana yang dibuat oleh Kementerian Perindustrian. Pabrik petrokimian itu akan memproduksi methanol, propylene, dan polypropylene pada tahun 2019. Tanah Papua menyediakan cukup bahan baku berupa liquefied natural gas (LNG).

Advertisement

Menurut Clemens Pawatak manajer hubungan masyarakat Ferrostaat GmbH,    pihaknya tidak hanya bertindak sebagai investor, namun juga melakukan pembangunan pabrik, dan bertanggung jawab untuk melakukan struktur  investasi sesuai dengan rencana—baik untuk mitra investasi dari luar negeri maupun mitra lokal yakni Indonesia.

Sesuai dengan kesepakatan itu,  dalam pada bulan-bulan berikut akan diadakan pembagian pengadaan gas yang berasal  dari sumber daya alam daerah. Demikian pula pembagian lahan bangunan pabrik dan perkantoran yang dialokasikan di satu kawasan industri di Teluk Bintuni seperti yang direncanakan oleh Kementerian Perindustrian.

Foto bersama seusai menandatanganan Letter of Intens (kiri-kanan) Dr. Klaus Lesker, Chatib Basri, Menteri M.S. Hidayat, dan Panggah Susanto (Foto: Ferrosaat GmbH)
Foto bersama seusai menandatanganan Letter of Intens (kiri-kanan) Dr. Klaus Lesker, Chatib Basri, Menteri M.S. Hidayat, dan Panggah Susanto (Foto: Ferrosaat GmbH)

Kurangi impor bahan baku plastik senilai US$600 juta per tahun
Proyek ini sangat menjanjikan keuntungan yang signifikan bagi Indonesia, demikian Klaus Lesker yang menambahkan, bahwa industri petrokimia itu mempunyai nilai tambah. Pertama, karena menggunakan produk akhir—sebagai bahan baku untuk industri lain—sehingga Indonesia bisa menghemat dari impor senilai US$600 juta per tahun. Sebagian produk    methanol, propylene, dan polypropylene akan diserap pasar domestic untuk bahan baku berbagai industri.

Nilai tambah yang kedua adalah penggunaan teknologi standar internasional di kompleks pabrik yang tentu saja akan terjadi proses transfer tekonologi bagi 3000 orang baik yang langsung bekerja di perusahaan mau pun pekerja pendukung pabrik—seperti kontraktor.

Baca juga :   Gunakan Kandungan Lokal 86 Persen

“Sebagai contoh, kita menciptakan empat kali lipat penggunaan produk gas (liquefied natural gas, LNG) di industri ini,” ujar Lesker.

Lesker menggambarkan, setelah pembangunan instalasi selesai dikerjakan,  pabrik akan menghasilkan 400.000 ton  polypropylene per tahun.  Sedangkan bahan sintetik serta produk sampingan berupa bensin (kira-kira 150.000 ton) dan gas cair (kira-kira 34.000 ton) yang akan dipasarkan di dalam negeri (Indonesia)—sebagai salah satu cara untuk mengurangi  (substitusi) impor yang terus meningkat. Bahan polypropylene merupakan kebutuhan utama di dunia, menyusul kebutuhan  propylene.

Produk methanol, propylene, dan polypropylene merupakan  bahan baku industri plastik yang digunakan sebagai bahan kemasan, komponen  industri otomotif, dan industri furniture.

Indonesia dapat manfaatkan teknologi alternatif untuk memproduksi methanol, propylene, dan polypropylene yang bahan bakunya berasal dari gas bumi—sumber daya alam di Papua Barat,  yang potensinya bisa memasok bahan baklu  selama minimal 25 tahun.

130312-01c

Proyek ini mendukung realisasi Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sebagai implementasi industrialisasi yang berkelanjutan hinga  tahun 2030. MP3EI bertujuan mempercepat pembangunan ekonomi,  khususnya di Indonesia wilayah timur.

Ferrostaal beroperasi di Indonesia sejak 50 tahun silam dan telah mengelola proyek-proyek bisnis dan menangani pembangungan konstruksi pabrik selama 30 tahun. Ferrostaal mengoperasikan dua anak usaha yakni PT Ferrostaal Indonesia dan PT Ferrostaal Equipment Solutions yang berkantor di Jakarta. Kedua perusahaan ini mempekerjakan 100 orang.

Proyek-proyek lain yang pernah ditangani oleh grup Ferrosaat meluputi bidang listrik, tambang, minyak dan gas serta industri metal. Ferrostaal Equipment  memberikan layanan yang berkaitan dengan mesin perkakas, dan sebagainya.

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda