BISNIS SATELIT & MENARASA

Ekspansi Kita ke Angkasa

0
22

Telkom siap meluncurkan  satelit Telkom-3S. PSN pesan satelit-PSN VI dari Boeing Satellite System International. Ke-2 satelit itu menambah 6 satelit  Indosat-2, Telkom-1, Palapa-D, Telkom-2, Garuda-1, dan Palapa-C2 di angkasa, dan Telkomsel bangun menara di wilayah terluar Indonesia.

140103-03a

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) sedang menyiapkan proses tender pengadaan satelit Telkom-3S (pengganti) untuk memperkuat backbone yang berdampak terhadap  peningkatan bisnis satelit di Indonesia.  Telkom telah memasuki tahap request for proposal dan diperkirakan tender satelit Telkom-3S dilaksanakan pada akhir 2013 sehingga satelit itu dapat diluncurkan pada Juni 2016, demikian Direktur Network IT Solution Telkom,  Rizkan Chandra kepada wartawan.

Advertisement

Menurut Rizkan jumlah transponder yang  dibawa satelit Telkom-3S kemungkinan sama dengan satelit Telkom-3 yang gagal mencapai orbit di 118° BT pada pertengahan tahun 2012.  Waktu itu,  satelit Telkom-3 dibangun oleh ISS-Reshetnev dengan perangkat komunikasi dibuat oleh Thales Aleniaspace. Satelit Telkom-3, diplot memiliki 42 transponder. Sayangnya, satelit Telkom-3 itu hilang sehingga  Telkom menggantinya dengan menyewa  transponder  dari GE Sat (Amerika Serikat),  APstar (Hong Kong),  dan JCSat milik Jepang.
Telkom sedang menghitung spesifikasi satelit TELKOM-S3,  apakah cukup satu transponder pada 36-54 MHz.  Sebagai catatan, 42 transponder dengan menggunakan teknologi baru maka jumlah itu  setara 49 transponder. Pengadaan satelit Telkom-3S merupakan upaya PT Telekomunikasi Indonesia untuk memperkuat dan mengonsolidasikan jaringan agar lebih kompetitif dan efisien pada masa yang akan datang sehingga perusahaan ini meraih Telkom One Network yang kualitasnya kelas dunia.

Satelit Telkom-S3 dirancang untuk memenuhi meningkatnya permintaan peralatan transmisi dalam pengembangan layanan bisnis satelit Indonesia,  terutama untuk grup Telkom yang telah menginvestasikan US$200 juta untuk membiayai pengadaan satelit.  Pihak Telkom juga tertarik untuk mengelola slot orbit 150.5° BT yang masih dikelola oleh Indosat jika pemerintah memutuskan untuk menariknya dari anak usaha Ooredoo tersebut.   Telkom  memerlukan slot orbit tambahan itu agat lebiuh strategis untuk mendukung kualitas layanan dan ekspansi Telkom.

Pertumbuhan kebutuhan layanan satelit terus meningkat sehingga PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) memesan satelit-PSN VI seri Boeing 702SP seharga US$200 juta dan diluncurkan  tahun 2016. Presiden Direktur PSN, Adi Rahman Adiwoso dan Senior Contract Manager Boeing Satellite Systems International, Patrice Gray Mitchell telah menandatangani surat pembelian di Jakarta belum lama ini.

Lokasi peluncuran ditentukan pada tahun 2014, dan diharapkan satelit-PSN VI beroperasi pada awal 2017 dengan mengisi slot orbit 146o arah timur. Satelit-PSN VI mempunyai kapasitas transponder C band 38 channel, Ku-Band DTH 6 channel (36-54 MHz), dan Ku-Band High Throughput Satellite (HTS, 8 beams dan 2 Gw). Sedangkan jangkauan transponder C-Band mengkover seluruh wilayah Asia Tenggara,India, Tiongkok, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Salomon—yang berfungsi sebagai pendistribusian video, komunkasi data, dan cellular trunking.

Sedangkan Ku-Band DTH dapat digunakan di Indonesia, Singapura, Timor  Leste sebagian wilayah Malaysia dan Papua Nugini yang berfungsi sebagai penopang industri televisi  berlangganan. Fasilitas Ku-Band HTS berguna untuk layanan internet broadband berkapasitas besar. Berat satelit dapat dikurangi 3 ton dengan menggunakan roket berteknologi electric propulsion dan usia satelit pun bisa lebih lama.

Setelah satelit-PSN VI beroperasi maka PT Pasifik Satelit Nusantara akan mencapai target pendapatan sebesar UDS$100 juta per tahun. Akan tetapi, meski Indonesia memiliki lebih dari delapan satelit, kita masih kekurangan kapasitas transponder dan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat, maka operator jasa telekomunikasi dan data menyewa 80 transponder dari perusahaan asing.

Kebutuhan Indonesia mencapai 220-230 transponder sedangkan yang mampu disediakan oleh operator lokal hanya 130-140 transponder dengan biaya sewa US$1 juta per channel dalam setahun. Kekurangan transponder itu merupakan peluang bagi para pebisnis industri satelit.

Indosat meluncurkan palapa-E

140103-03b

Melihat peluang bisnis komunikasi dan teknologi informasi yang terus meningkat, PT Indosat Tbk (ISAT) menetapkan rencana peluncuran satelit Palapa-E yang dengan mengisi slot orbit 150,5 Timur.  Operator seluler ini sudah menandatangani kontrak pembelian delapan transponder pada satelit pengganti Palapa-C2. Menurut Alexander Rusli,  Direktur Utama Indosat, pihaknya berkomitmen untuk meluncurkan satelit Palapa-E pada tahun 2016. Satelit itu diproduksi oleh  Orbital Sciences Corporation perusahaan di Amerika Serikat. Disain dan rencana peluncuran Palapa-E sedang diproses  pembahasan.

Sejak kerja sama itu diteken, pihak  Indosat membicarakan hal itu dengan para penyewa transponder Palapa-E. Satelit ini akan menjadi bagian jaringan tulang punggung (backbone) pendukung seluruh layanan Indosat—layanan seluler,  telekomunikasi, dan data.

Recana peluncuran Palapa-E membutuhkan investasi US$200 juta hingga US$250 juta.  Sebanyak $50 juta berasal dari kas internal Indosat dan sisanya dicari lewat skema pinjaman dari pihak ketiga.  Indosat sedang fokus mengerjakan finalisasi kontrak dengan Orbital agar satelit dapat memasuki tahap pabrikasi dan diluncurkan  pada tahun 2016.  Oleh karena itu, Indosat  berharap Kementerian Komunikasi dan Informatika segera menerbitkan surat keputusan (izin) agar slot orbit tidak lepas kepada pihak lain.

Telkomsel resmikan BTS

Sementara itu, Telkomsel meresmikan pembangunan base transceiver station (BTS) yang ke- 67.000 dan tahun 2013 ini,  BTS tersebut merupakan BTS ke-13.000 dari total target sebanyak 15.000 BTS.   Pada saat peresmiannya dilakukan pelaksanaan program Ekspedisi Cinta Bahari di empat wilayah terluar dan terdepan Indonesia,  yaitu Pulau Sangihe (Utara),  Maumere (Selatan),  Pulau Weh (Barat),  dan Pulau Biak (Timur).

Baca juga :   Kekuatan Teknologi Penyelamat Nyawa Orang

Menurut Direktur Network Telkomsel Abdus Somad Arief peresmian pembangunan BTS ke-67.000 itu dilakukan di pulau terluar dan pulau terdepan Indonesia—sebagai bentuk penegasan komitmen Telkomsel kepada masyarakat untuk membangun jaringan broadband terluas di Tanah Air.

Telkomsel memberikan bantuan berupa fasilitas GSM Home untuk Posko TNI. Selain itu, Telkomsel memberikan  dukungan berupa kartu perdana dan voucher isi ulang bagi para prajurit dan nelayan di lokasi setempat. Dengan fasilitas itu penduduk dan anggota prajurit TNI lebih mudah berkomunikasi dan berkoordinasi menjaga keamanan di pulau-pulau terluar.

Meski berada di area terluar,  empat wilayah terluar yakni Pulau Sangihe,  Mau-mere,  Pulau Weh,  dan Pulau Biak memiliki potensi wisata yang luar biasa.  Masyarakat semakin lancar berkomunikasi dan menggunakan layanan suara serta mengakses layanan data sejak Telkomsel menggelar pembangunan BTS di lokasi-lokasi tersebut.

Grup Rajawali masuk bisnis menara

140103-03c

PT Nusantara Infrastructure Tbk (META),  unit usaha Grup Rajawali,  merambah bisnis menara telekomunikasi.  Nusantara Infrastructure melalui PT Telekom Infranusantara (Tl) mengakuisisi 39,55  persen saham PT Tara Cell Intrabuana (Towerco) senilai Rp598 miliar.

Dalam Tara subscription agreement,  TI akan menyerap saham baru yang diterbitkan oleh Towerco.  Akibatnya,  kepemilikan saham PT Tara Telco Indonesia selaku pengendali Towerco berkurang.  Towerco akan menerbitkan sebanyak 705,68 juta saham baru senilai Rp500 miliar.  Transaksi itu ditargetkan tuntas pada 15 Januari 2014.

Sementara itu,  dalam Islamic financing agreement 2,  TI wajib menyerahkan Rp1 miliar kepada pemegang saham Towerco yang lain,  yaitu PT Menara Telekomunikasi Indonesia (MTI),  agar menerbitkan hak jual atau put option.

Selanjutnya,  TI mengeksekusi call option yang diterbitkan MTI dengan memberikan pembiayaan sebesar Rp98 miliar.  Jumlah saham Towerco milik MTI yang diambil oleh TI sebanyak 138,31 juta saham.

Sesuai rencana,  dana untuk mengakuisisi Towerco diperoleh TI dari PEPVII HKCO 2 sebesar Rp455,4 miliar secara mudarabah sesuai Islamic financing agreement.  Selain itu,  TI bakal mendapat suntikan modal dari Nusantara Infrastructure selaku induk usaha senilai Rp138 miliar.

Manajemen Nusantara Infrastructure menyatakan,  akuisisi Towerco bertujuan untuk diversifikasi portofolio bisnis, meningkatkan pendapatan,  serta mempertahankan arus kaspositif.  Selama ini,  Nusantara Infrastructure fokus pacte pengembangan jalan tol dan pelabuhan.

Belanja Solusi Tunas sebesar Rp1,5 triliun

140103-03d

Perusahaan bidang usaha penunjang telekomunikasi,  PT Solusi Tunas Pratama Tbk menganggarkan belanja modal (capex) pada 2014 sebesar Rp1,5 triliun untuk membangun 1.000 tower dan kabel fiber optik.   Satu tower investasinya sekitar Rp1 miliar – Rp1,5 miliar.  Untuk pendanaannya dari kas internal dan pinjaman perbankan,  perseroan sudah memiliki pinjaman perbankan sebesar  US$100 juta, demikian  Presiden Direktur PT Solusi Tunas Pratama Tbk,  Nobel Tanihaha.

Selain membangun 1.000 tower pada tahun 2014,  perseroan juga akan membangun kabel fiber optik untuk mendongkrak pendapatan perseroan.  Tahun 2013 ini perseroan sudah memiliki 1.000 kilo meter kaber fiber optik.

Nobel Tanihaha memaparkan bahwa perseroan menargetkan pendapatan pada 2014 meningkat 60 persen menjadi Rp1,25 triliun dibanding estimasi pencapaian tahun 2013 ini sebesar Rp800 miliar.

Sementara itu,  pencapaian kinerja pada kuartal ketiga 2013,  Solusi Tunas Pratama Tbk membukukan pendapatan sebesar Rp600,34 miliar atau tumbuh 41,50 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.  Sementara untuk laba bersih naik 36,82 persen menjadi Rp144,11 miliar dari sebelumnya Rp94,05 miliar. Total aset perseroan kuartal ketiga 2013 terctaat mencapai Rp6,11 triliun dari total aset perseroan di akhir Desember 2012 yang sebesar Rp3,88 triliun.

Global Mediacom ekspansi modal US$ 20 juta

140103-03e

Sementara itu, PT Global Mediacom Tbk menganggarkan belanja modal (capital expenditur) senilai US$ 20 juta pada 2014.  Dana itu akan digunakan untuk membiayai infrastruktur penyiaran perseroan.

Direktur Global Mediacom David Audi mengatakan,  nilai belanja modal tersebut sama dengan anggaran tahun ini.  Pendanaan belanja modal berasal dari kas internal. “Belanja modal tidak besar,  karena infrastruktur penyiaran kami sudah memadai.  Selain itu,  satelit kami masih memiliki umur 16 tahun lagi.”

Terkait kinerja keuangan tahun 2014,  diprediksi meningkat sekitar 15-20  persen dibandingkan realisasi tahun 2013 ini.  Penopang utama pendapatan diprediksi dari peningkatan belanja ikian. Angka tersebut di luar belanja iklan politik tahun depan, tutur  kata David.

Sedangkan nilai iklan politik,  kata David,  berpotensi mencapai triliunan untuk media televisi,  belum memperhitungkan media cetak.  Hingga kuartal III-2013,  perseroan membukukan pendapatan iklan menjadi Rp4,37 triliun dari sebelumnya Rp3,94 triliun.  Pendapatan media berbasis pelanggan meningkat 29  persen menjadi Rp2,23 triliun dari sebelumnya Rp1,72 triliun.

Pendapatan iklan berkontribusi sebesar 60  persen terhadap pendapatan konsolidasi Global Mediacom senilai Rp7,33 triliun hingga September 2013.  Laba bersih perseroan tercatat turun 28  persen dari sebelumnya Rp881 miliar menjadi Rp632 miliar. (Sumber: Diolah dari berbagai sumber seperti tender-indonesia.com, TEMPO.com, Bisnis Indinesia, dan berbagai sumber lainnya).

Advertisement

Tulis Opini Anda