INDUSTRI PERKAPALAN

Damen Schelde Naval-PAL Produksi Kapal Perusak

1
51
Kapan buatan PT PAL Indonesia

Perusahaan yang berlokasi di Surabaya, PT PAL Indonesia makin menunjukkan kehebatannya dengan membangun satu unit kapal Perusak Kawal Rudal 10514 hasil kerja sama dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding perusahaan galangan kapal dari  Belanda. Produksi dimulai pada Januari 2013. PAL juga membuat kapal selam yang bekerja sama dengan perusahaan galangan kapal dari Korea Selatan. Model kerja sama itu dengan transfer of technology.

Proses pembuatan kapal di PT PAL (Sumber foto: http://www.google.co.id/)

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha PAL Indonesia Eko Prasetyanto mengatakan kepada tender-indonesia.com,  perseroan memiliki empat divisi usaha yakni Kapal Perang,  Kapal Niaga,  Perbaikan dan Perawatan,  dan Rekayasa Umum.

Divisi Kapal Perang ini memproduksi kapal perang yang mendukung alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan salah satu kontrak yang akan dikerjakan ialah kontrak kapal PKR senilai 7 juta euro itu dengan menggandeng Damen,  galangan kapal dari Belanda.

Advertisement

“Kami juga akan mulai kerjakan pada Januari 2013 yakni kapal perusak rudal kerja sama dengan Damen.  Kontraknya kami berdua,  nilai totalnya 7 juta euro,” katanya.

Dia menjelaskan mekanisme pembuatan kapal yang akan memperkuat alutsista Indonesia itu terdiri dari enam modul.  Dari jumlah itu,  dua modul akan dikerjakan di Belanda,  sedangkan empat modul akan dikerjakan di Surabaya.

“Nah setelah jadi modul-modulnya,  dua dari Belanda,  empat dari kita maka nanti akan digabung,  disimulasikan,” katanya.

Galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (Sumber foto: http://www.damen.nl/)

Kontrak berskema joint production antara PAL Indonesia dan Damen ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo dengan Direktur Damen Evert Van den Broek beberapa waktu lalu.

PAL Indonesia dulunya bernama Marine Establishment dan diresmikan oleh Pemerintah Belanda pada 1939.  Beralih nama menjadi Kaigun SE 2124 saat pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka dinasionalisasi menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL) hingga menjadi perseroan terbatas.

Selain itu,  kerja sama itu juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam rencana induk revitalisasi industri pertahanan dalam rangka mendorong dan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.

Kapal PKR 10514 ini dilengkapi dengan mesin utama 2x diesel engine,  2x E Drive (CODOE).  Diesel Generator 4×715 kw,  dan 2×435 kw,  dan Gear Box CODOE,  heavy duty.  Combat System,  yaitu persenjataan antiserangan udara,  antiserangan kapal selam,  dan antiserangan kapal atas air.

Kapan buatan PT PAL Indonesia

Selain PKR itu,  PAL Indonesia juga tengah membangun Kapal Cepat Rudal KCR-60 dan melakukan perbaikan atas Kapal Geomarine milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Kerja sama dengan Korea Selatan

Sementara itu, kantor berita ANTARA melaporkan bahwa, Indonesia tengah menunggu untuk mendapatkan hibah 25 unit tank amfibi Landing Vehicle Tracked (LVT) dari Korea Selatan untuk digunakan oleh Korps Marinir TNI Angkatan Laut.

“Namun, hibah 25 unit alat tempur LVT itu harus mendapatkan izin dari Amerika Serikat karena LVT itu merupakan buatan Amerika,” kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono usai mengikuti sidang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) di PT PAL Indonesia (Persero), Surabaya, Jawa Timur, Rabu.

Menurut Panglima TNI, Indonesia sebelumnya juga telah mendapatkan 10 unit LVT dari Korea Selatan. Namun, di Korsel masih ada 25 unit lagi yang masih layak digunakan dan dihibahkan.

Baca juga :   Filipina Beli Kapal Perang Senilai US$90 Juta

“Saat ini, sedang diproses untuk mohon dihibahkan pada Indonesia, tapi pelaksanaan hibah ini pun harus seizin Amerika. Kita masih menunggu keputusan dari Kemenhan Korea dan Amerika Serikat apakah menyetujui untuk dihibahkan ke Indonesia atau tidak,” kata Panglima.

Mengenai pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) di dalam negeri, Panglima TNI selaku anggota KKIP mengatakan bahwa PT PAL sebagai “Lead Integrator” sangat penting untuk diberikan dukungan dalam mewujudkan pembangunan kapal, baik Kapal Cepat Rudal (KCR), Perusak Kawal Rudal (PKR), maupun kapal angkut.

“KCR 40M sudah selesai dibangun dan ada beberapa unit. PT PAL juga akan membangun enam unit KCR-60M dan kapal perang 105M, yakni PKR,” katanya.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa tiga unit kapal masih dalam proses pembangunan yang dilakukan oleh Korsel dan PT PAL.

“Kapal selam pertama akan dilakukan oleh Korsel. Yang kedua, separuh-separuh antara Korsel dan PT PAL, dan ketiga dibangun di PT PAL. Ini harus dibahas kembali karena harus dilihat kesiapan PT PAL sendiri,” katanya.

Pasalnya, kata Menhan yang juga selaku Ketua KKIP, peralatan untuk pembangunan kapal selam itu tidak mudah sehingga harus terus dibicarakan, sementara proses dari pembuatan ini tetap berjalan.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyebutkan proyek kapal selam ini ada dua macam, yakni pengadaannya dan transfer of technology (ToT)-nya.

“Kalau pengadaannya kan sudah selesai dan kita telah kontrak. Ini akan berjalan sekaligus,” tuturnya.

Namun dalam ToT, ada tiga tahapan, yakni pembangunan kapal selam di Korea, separuh-separuh antara Korsel dan PT PAL, serta PT PAL sendiri.

“Sejak fase pertama kita sudah melibatkan tenaga-tenaga teknis yang kita kirim dari Indonesia, yakni PT PAL ke Korea. Yang menjadi tantangan apabila kita ingin masuk ke fase ketiga, infrastruktur yang ada di PT PAL harus dipersiapkan karena membangun kapal selam memiliki infrastruktur tersendiri dan yang paling penting, harus didukung oleh anggaran yang perlu dipersiapkan,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya tengah membicarakan bagaimana kesiapan PT PAL yang terdiri dari Meneg BUMN, dan tentunya yang ahli dalam kontrak, Kemhan. (Sumber :tender-indonesia.com dan  ANTARA)

Incoming search terms:

Advertisement

1 KOMENTAR

Tulis Opini Anda