VIRTUAL REALITY

Ciptakan Tempat Kerja yang Efisien dan Ergonomis

0
9
Gambar 1: Urutan gerakan tidak lagi diprogram "secara manual" sebuah proses yang melelahkan dan memakan waktu... meneruskan ke Gambar 2 dan Gambar 3. (Foto : Fraunhofer/AO)

Realitas virtual memungkinkan peneliti untuk  melihat bagaimana sebuah instalasi di masa mendatang akan beroperasi dan bekerja. Teknologi ini membantu menghindari kesalahan perencanaan dan menciptakan tempat kerja yang efisien dan ergonomis. Apakah perusahaan ingin merakit mobil, kamera atau bor? Perusahan tidak bisa teliti ketika merencanakan fasilitas produksi—setiap kekurangan menyebabkan masalah dan menelan banyak biaya di sepanjang jalur produksi.

Gambar 1: Urutan gerakan tidak lagi diprogram "secara manual" sebuah proses yang melelahkan dan memakan waktu... meneruskan ke Gambar 2 dan Gambar 3. (Foto : Fraunhofer/AO)

Institut Fraunhofer untuk Industrial Engineering IAO di Stuttgart, Jerman,  terus menyempurnakan ilusi peleburan ke dalam realitas virtual. Lembaga ini memiliki beberapa layar proyeksi VR dan sebuah “CAVE” (gua) 6-dinding, ruang proyeksi berjalan di mana pengunjung melihat dunia virtual yang diperagakan di sekeliling mereka.

Orang bisa melihat gedung lembaga yang baru itu kendati  fondasinya bahkan belum dimulai bangun. Karyawan atau tamu dapat melayang di sekitar paviliun sesuka hati, atau melihat-lihat isi setiap ruangan.

Advertisement

Kunjungan ke masa depan seperti itu sangat canggih, dan banyak kontraktor bangunan yang sudah menggunakan Virtual Reality (realitas virtual) untuk menghuni bangunan-bangunan yang dirancang arsitek sebelum konstruksi dilakukan.

Namun, para ahli AO telah mengidentifikasi wilayah baru untuk aplikasinya.

Mereka  telah menemukan cara untuk menggunakan realitas virtual untuk secara signifikan menyederhanakan perencanaan produksi. Mereka mencermati jalur perakitan di tempat kerja, yang masih dibutuhkan, bahkan di era komputerisasi sekarang ini. Meskipun robot dapat menggantikan manusia ketika menyangkut banyak gerakan, robot-robot tersebut tidak bisa melakukan manuver rumit atau ketika memerlukan sensitivitas ujung jari.

Dan kerja manual juga lebih murah apabila yang diproduksi dalam jumlah kecil. Tempat kerja di mana para pekerja akan berdiri harus dirancang dengan baik. Terlepas dari apakah perusahaan ingin merakit mobil, kamera atau bor, perusahan tidak bisa sangat teliti ketika merencanakan fasilitas produksi. Karena setiap kekurangan akan menyebabkan masalah dan menelan biaya besar di sepanjang jalur produksi.

Lakukan gerakan tanpa menimbulkan masalah kesehatan

Alhasil, para ahli fokus pada apa yang mereka sebut front-loading (pengisian di muka), dan menciptakan sebanyak mungkin rincian selama fase disain awal. Yang paling penting, mereka perlu memastikan bahwa setiap tempat kerja memenuhi persyaratan ergonomis dan efisiensi.

Dengan kata lain, dapatkah seorang pekerja melakukan gerakan dengan kecepatan yang dibutuhkan, tanpa menimbulkan masalah kesehatan? Berapa lama dia perlu melakukannya? Apakah semuanya bisa terjangkau? Apakah ada hambatan di jalur pergerakannya?

Beberapa perusahaan mengandalkan pengalaman staf mereka sendiri ketika hendak menangani isu-isu rumit seperti itu.

“Orang tua” seringkali bagus dalam menginterpretasikan gambar. Dengan lirikan sekilas pada rancangan, mereka bisa membayangkan secara grafis bagaimana pekerja akan diminta untuk bergerak. Namun demikian, bisa saja mereka melewatkan satu batu sandungan atau hal lain.

“Tidak ada yang memikirkan semuanya,” kata Dr. Manfred Dangelmaier, Kepala Lingkungan Virtual Pusat Kompetensi (Competence Center Virtual Environments (CCVE) di IAO,  Fraunhofer. Dari waktu ke waktu, dia melihat bagaimana bahkan para ahli sekalipun bisa kebingungan ketika mereka tenggelam di dalam Realitas Virtual.

Gambar 2: Bekerja memores data ke Gambar 3

“Sebagian orang terkagum-kagum ketika melihat bagaimana tempat kerja berfungsi – atau gagal berfungsi- dalam proses operasional.” Itulah sebabnya mengapa analisis menggunakan model bergerak menjadi penting.

Sebelumnya, hanya ada satu cara yang rumit untuk melakukan ini. Dan mengimpor tempat kerja masa depan ke dalam komputer adalah masalah terkecil terkait dengan itu, mengingat bahwa perencanaan biasanya dilakukan dengan bantuan CAD dan data umumnya tersimpan dalam format digital.

Komputer akan memperkenalkan “model manusia”, semacam tokoh buku komik, ke dalam lingkungan virtual, yang melakukan semua gerakan yang diinginkan seolah-olah dalam sebuah film animasi. “Mengajar” sosok tersebut apa yang dibutuhkan membutuhkan kerja yang sangat keras.

Perusahaan menengah  mencari solusi yang cepat dan murah

Upaya ini harus dilakukan secara bertahap: misalnya, jika sosok itu harus meraih sesuatu di sekitar rintangan, gerakan mengalir tersebut harus dipecah-pecah menjadi tahap linear individual dan ke dalam periode waktu yang telah dialokasikan untuk setiap tahap. Ini proses yang rumit, di mana perencana menghabiskan waktu sekitar lima menit untuk setiap detik dalam film.

Baca juga :   Memiliki Banyak Sisi Potong, Apa Manfaatnya?

Dan industri, yang begitu fokus pada rasionalisasi, tidak pernah tertarik berinvestasi pada pekerjaan yang memakan waktu dan intensif seperti itu. Perusahaan menengah, khususnya, mencari solusi yang cepat dan murah.

Akan halnya Robert Bosch GmbH, peneliti di IAO telah mengembangkan teknologi baru yang bisa memecahkan dengan baik masalah yang dihadapi hingga saat ini. Alih-alih duduk di depan PC dan menganimasikan tokoh tersebut dari satu frame ke  frame berikutnya dengan menggunakan mouse, perencana menempatkan dirinya di depan layar VR seukuran manusia yang menunjukkan tempat kerja jalur perakitan dalam ukuran sebenarnya. Ketika dia memakai kacamata dengan filter polarisasi, gambar dari dua proyektor berubah menjadi pengalaman khusus.

Dalam dunia virtual ini, perancang kemudian dapat mensimulasikan gerakan pekerja. Gerakan yang dia buat dicatat dengan menggunakan perangkat mouse 3-D yang dipegang di tangannya. Perangkat ini dilengkapi dengan “antena” multi-cabang, setiap cabang memiliki ujung dengan target berbentuk bola kecil. Target tersebut dilacak oleh dua atau lebih kamera. Semua jenis gerakan dapat dilacak dengan sistem pelacakan, termasuk rotasi di sekitar sumbu yang ada, dan target-target bahkan bisa diamankan langsung pada tangan atau lengan.

Komputer menggunakan pengukuran ini untuk membuat manusia virtual yang akan melakukan gerakan yang sama seperti manusia nyata tanpa penundaan. Perencana melihat sosok ini di depannya, bagaimana dia berdiri di ruang kerja, dan, pada batas tertentu, membimbing tangannya. Jadi segala sesuatu benar-benar cocok, ukuran manusia virtual bahkan disesuaikan dengan ukuran manusia nyata.

Gambar 3: menerima pekerjaan melalui transfer langsung—digambarkan oleh model manusia virtual (Foto : Fraunhofer/AO)

Metode ini memiliki keuntungan besar: perencana tidak lagi harus menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk pemrograman model manusia. Sebaliknya, itu semua tentang learning by doing.

Tanpa pengalaman dan prosedur iTeach

“Ini seperti bermain gitar imajiner,” kata Dangelmaier. Bahkan pengguna yang tidak berpengalaman mudah saja menggunakan teknologi ini. Dan tujuan dicapai lebih cepat: perancang dapat memainkan beberapa variasi berbeda, sebuah kemewahan yang umumnya harus dikorbankan di masa lalu karena biaya.

Prosedur ini disebut iTeach. Sebuah prototipe sistem itu dikembangkan untuk Bosch oleh IAO dan masih berlanjut.  Dangelmaier yakin “masih ada lebih banyak hal terkait lainnya”, dan dia memiliki ide-ide konkret bagaimana dia dapat menyempurnakan sistem tersebut selanjutnya dalam klaster inovasi “Produksi Digital”.

Di masa mendatang, semua pergerakan “guru” dicatat, tidak hanya pergerakan tangan tetapi juga kepala. Dengan menggunakan pakaian khusus, tujuannya adalah menunjukkan ketika dia berlutut, membungkuk atau melangkah ke depan. Selain itu, Dangelmaier ingin mengidentifikasi secara persis berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang pekerja untuk melakukan setiap gerakan individual.

Hal ini sangat sulit, karena perencana yang berada di depan layar VR bukanlah seorang pekerja nyata dan gerakannya tidak cukup nyata untuk pengukuran waktu secara akurat. Yang mau disampaikan di sini, ada tabel daftar berapa lama waktu yang dibutuhkan pekerja untuk melakukan tugas-tugas tertentu, dan mengkombinasikan angka-angka panduan tersebut dengan “iTeach” mempermudah penghitungan waktu yang dibutuhkan. Data tersebut tak ternilai bagi para perancang instalasi.

Para peneliti di IAO ingin membuat tokoh animasi mereka lebih fleksibel. Pekerja akan diwakili oleh berbagai macam avatar yang dapat diimajinasikan, dari tokoh manusia seperti di kehidupan nyata hingga manusia dari korek api, bahkan karakter kartun.(Klaus Jacon ; fraunhofer.de/magazine)

Advertisement

Tulis Opini Anda