REVOLUSI FILM 3D

Cakupannya Makin Luas Bukan Sekadar Adegan

0
3

Penelitian film 3D bertujuan untuk mengembangkan jaringan kerja di antara ilmu pengetahuan dan bisnis. Film-film 3D akan segera masuk ke rumah-rumah warga di seantero dunia—asalkan universitas, pakar, laboratorium, perusahaan telekomunikasi dan pihak lain bersinergi.

140227-02a

Film 3D semakin digemari sekarang ini meskipun untuk menciptakan hasil karya berkualitas tinggi membutuhkan waktu dan biaya. Banyak hal yang harus dikerjakan untuk membuktikannya. Oleh karena itu, para ilmuan yang bekerja di pusat penelitian Fraunhofer melihat suatu kesempatan dan peluang  untuk mengubah paradigma lama dengan melibatkan para pakar dari bidang pefilman dan teknologi informasi.

Advertisement

Bagi orang atau para pelaku industri yang sedang berada di festival film internasional atau sedang mengunjungi pameran elektronik untuk konsumen IFA di Berlin, Jerman, satu hal yang bisa dipastikan adalah bahwa produksi film-film 3D adalah suatu keharusan sekarang ini. Jeffrey Katzenberg, salah seorang pendiri studio Dreamworks di Hollywood, Amerika Serikat (AS), menjelaskan tentang film 3D merupakan suatu revolusi industri perfilman yang demikian besar pada masa yang akan datang.

Industri film 3D menjadi sejajar dengan keputusan bersejarah untuk memasukkan rekaman suara pada masa film-film bisu ratusan tahun silam. Penelitian pasar memprediksikan bahwa di dalam jangka waktu menengah, satu dari dua teater film di AS akan diisi oleh satu film 3D. Selain itu, film-film dan peristiwa-peristiwa olah raga yang ditayangkan dalam format 3D juga mulai merebut perhatian para pemirsa televisi.

Bukan hanya di dalam dunia hiburan film berdimensi tiga ini memainkan peranan yang penting. Di dalam bidang industri juga sejak lama dipercayakan untuk keperluan simulasi-simulasi dan video-video yang spesial. Inilah alasan yang lainnya mengapa pengembangan teknologi-teknologi 3D yang lebih meyakinkan merupakan inti dari gagasan penting strategi teknologi komunikasi dan informasi pemerintah Jerman yang berjudul Deutschland Digital 2015—Pusat Inovasi 3D (3D Innovation Center, atau disingkat 3DIC, redaksi) yang berada pada Fraunhofer Institute for Telecommunications, Heinrich-Hertz-Institut, HHI di Berlin menjadi suatu tempat pengembangan bagi strategi ini.

“Kami ingin menawarkan kepada semua pelaku industri di bidang pengembangan 3D suatu rancangan kerja untuk sebuah pertukaran ide-ide yang sedikit kompetitif, di mmana mereka bisa mengembangkan jaringan kerja, produk-produk dan sistem-sistem pengujian, serta bersama-sama mempresentasikan hasil karya mereka kepada berbagai kelompok sasaran yang berbeda-beda,” kata Dr. Ralf Schäfer.

Sebagai direktur Dewan Pengurus 3DIC, dia bertanggung jawab untuk menentukan fokus yang strategis lembaga itu. Tujuannya adalah  untuk membantu pengembangan jaringan kerja di antara ilmu pengetahuan dan bisnis. Sampai saat ini, jenis perkumpulan di mana orang bisa mendiskusikan model-model bisnis dan juga strategi-strategi pasar bisa dibilang tidak ada. Seperti yang dikatakan oleh Kathleen Schröter, Manajer Eksekutif 3DIC, “Kekuatiran benar-benar tidak akan ada bila Anda telah menguasai permasalannya.”

www.3dinnovationcenter.de

Kebutuhan 3D kian mendesak diwujudkan. Meski pasar 3D menjanjikan, keteparan dan penemuan teknologi hingga saat ini belum kunjung tiba mendekati hasil yang kita harapkan. Bukan hanya karena masih sangat terbatasnya pilihan layar 3D—tidak  perlu menggunakan kacamata bantuan dan juga masih diperlukannya peningkatan kualitas—ternyata biaya produksi yang demikian besar sehingga membatasi kemungkinan untuk mengubah isi ke dalam format yang berbeda.

“Dengan demikian, biaya produksi yang tinggi dan tidak adanya kesempatan untuk menyaksikan film-film 3D tanpa kacamatalah yang menjadi hambatan utama bagi penyebarluasan pemanfaatan teknologi 3D di dalam rumah,” kata Schäfer.

Oleh karena itu, banyak lembaga penelitian, laboratorium pengembangan industri, universitas, stasiun radio baik milik pribadi maupun umum, dan perusahaan telekomunikasi yang sedang sibuk bekerja untuk mengembangkan dan memperbaiki teknologi 3D. Namun sayangnya, pokok-pokok persoalan ini cenderung bekerja sendiri-sendiri. Apakah itu berarti tidak dimungkinkan terjadinya sinergi-sinergi pada masa waktu dekat ini?

Sekarang ini perubahan mendekati kenyataan, di mana 3DIC telah menandatangani kerja sama dengan hampir 50 perusahaan dan organisasi, dan para pemandu teknologi. Pihak lain pun  dipersilakan untuk bergabung melalui perjanjian-perjanjian kerja sama.

“Para mitra 3DIC mempunyai pilihan untuk berperan sebagai mitra yang aktif di dalam suatu cakupan kelompok dan jaringan kerja yang luas,” kata Schröter yang menambahkan bahwa pusat penelitian 3DIC juga lebih cenderung berkonsentrasi pada permasalahan aplikasi-aplikasi di bidang kedokteran dan industri.

Rekayasa 3D

Para mitra penelitian akan dibantu untuk menciptakan kemajuan pada sektor-sektor yang dapat dilayani oleh fasilitas-fasilitas milik 3DIC di Berlin. Bantuan itu meliputi kesempatan-kesempatan untuk produksi 3D dan film 3D, termasuk juga area-area pameran dan laboratorium.

Baca juga :   Menggunakan iPad untuk Operasi Hati
Salah satu faktor penghalang untuk menyebarluaskan pemanfaatan teknologi 3D di di dalam rumah berbiaya produksi yang tinggi. (Sumber foto/@: istockphoto)
Salah satu faktor penghalang untuk menyebarluaskan pemanfaatan teknologi 3D di di dalam rumah berbiaya produksi yang tinggi. (Sumber foto/@: istockphoto)

Laboratorium SDM milik HHI memfasilitasi pengembangan pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi-teknologi, inovasi, dan standar-standar. Bantuan ini menjadi sebuah sumbangan penting dari lembaga tersebut bagi standarisasi terhadap proses-proses rekayasa 3D, yang diarahkan oleh forum internasional untuk permasalahan MPEG, yaitu Forum Terbuka IPTV (Open IPTV Forum atau OIPF, redaksi)

Pekerjaan pengembangan yang lebih jauh juga dibutuhkan di dalam urusan-urusan seperti kamera-kamera yang dapat bekerja dengan menyesuaikan secara otomatis, pembuatan film yang hemat biaya, pascaproduksi dan distribusi, termasuk juga di dalam tampilan 3D yang tidak memerlukan kacamata bantuan dan kesempurnaan dari suara yang dihasilkan, di mana semua urusan ini dikerjakan oleh para peneliti Fraunhofer. Ada suatu situasi yang menyerupai hubungan antara ayam dan telur—terutama ketika berhadapan dengan penawaran ke televisi dan produksi-produksi khusus seperti film-film yang menggambarkan pemandangan alam, di mana tidak adanya produksi seperti itu yang diakibatkan oleh minimnya permintaan, dan demikian pula sebaliknya.

Sampai dengan mulai menurunnya biaya dan kesibukan produksi, hampir tidak akan ada dorongan untuk memproduksi film 3D berkualitas tinggi. Epik fiksi ilmiah Avatar hasil karya James Cameron merupakan film layar lebar 3D yang pertama, dengan biaya di atas 237 juta dolar AS.  Melalui proses pengerjaannya selama empat tahun, yang salah satu alasannya adalah karena seluruh pengerjaan dan penyelesaiannya dilakukan secara manual hingga menghasilkan sebuah tampilan nyata audio visual yang berdimensi ke ruangan.

Empat lembaga milik Fraunhofer Digital Cinema Alliance, yang semuanya juga merupakan mitra 3D Innovation Center, sedang berusaha merubah kenyataan ini melalui proyek yang terakhir mereka luncurkan bernama SpatialAV. Manajer Proyek Dr. Siegfried Fößel menjelaskan bahwa tujuan dari lembaga tersebut adalah, “Agar para juru kamera akan dapat bebas berkonsentrasi ke bagian-bagian dari cerita, dengan mengabaikan gangguan yang disebabkan oleh semua pengaturan dan rincian teknis yang telah kerap kali muncul pada pembuatan-pembuatan film sejak hadirnya 3D.”

Kesempatan ini menjadi mungkin berkat sistem rekaman dan produksi yang cerdas, teratur, dan multisensor yang sedang dikerjakan oleh para peneliti IIS, HHI, IDMT, dan FOKUS dari Fraunhofer. Tujuan yang lebih jauh adalah untuk menyederhanakan produksi film-film 3D di dalam memunculkan proyeksi secara tiga dimensi, seperti pada film-film yang menggambarkan pemandangan atau bangunan beratapkan kubah.

Ditambah lagi, “Hingga sekarang, kandungan untuk film-film yang seperti ini telah diproduksi hampir secara eksklusif dengan menggunakan komputer. Kami ingin merintis jalan untuk film-film yang menggambarkan bangunan beratap kubah yang direkam dengan menggunakan kamera,” kata Manajer Proyek dari FOKUS Ivo Haulsen.

Untuk tercapainya tujuan ini, para pakar 3D sedang mengembangkan seperangkat software yang mampu mengkalibrasikan dua kamera mata ikan yang berhubungan satu sama lain dan bisa mengambil aliran data yang diperlukan untuk membuat sebuah video dari bangunan yang beratapkan kubah secara utuh dengan hasil 3D.

Alternatif yang lainnya, video-video tersebut bisa digabungkan dengan rekaman-rekaman yang diambil—menggunakan sejumlah kamera yang lebih kecil. Software tersebut secara otomatis berhubungan erat dengan satu per satu rekaman, mengkoreksi perbedaan-perbedaan di dalam geometri, warna dan pencahayaan, serta menyesuaikan format gambarnya untuk menghasilkan sebuah gambar yang homogeny, sehingga pada akhirnya para penonton bisa terpukau dibuatnya, karena tidak lagi dibatasi oleh sebuah bingkai.

Haulsen melihat hal ini sebagai bagian dari suatu tren jangka panjang, “Setelah suara yang menyebar telah menjadi norma di dalam bidang audio, maka film juga sekarang dipimpin oleh pengaturan dari gambar yang menyebar, sehingga dinding-dinding dan atap dari gedung bioskop pun akan dimainkan.”

Bagaimana para ilmuwan dan para pelaku industri film di Indonesia? Jangan tunggu waktu agar lahan ini pun menghasilkan sesuatu karya dan nilai ekonomi untuk kita nikmati. Pelaku industri film, sudah seyogiayanya membuat dan menayangkan hiburan bukan sekadar adegan murahan melalui tayangan sinetron. Sektor industri di Indonesia pun kian membutuhkan dokumentasi dalam bentuk video, dan sebagaianya. (Diolah dari tulisan Chris Löwer, Fraunhofer.de/magazine dan sumber-sumber lain)

Advertisement

Tulis Opini Anda