INDUSTRI OTOMOTIF

Biaya Pembangun Pabrik Mercedes Sebesar Rp369,87 miliar

1
25

Presiden Direktur PT Mercedes Benz Indonesia,  Claus Weidner menuturkan, pihaknya menginvestasikan 20 juta hingga 30 juta euro dalam tiga tahun terakhir ini,  untuk memodernisasi dan menambah kapasitas pabrik perakitan otomotif  di Cikeas,  Bogor. Penjualan kendaraan niaga  pun meningkat sebesar 30 persen. Iklim investasi makin kondusif di Indonesia.

Claus menambahkan,  fasilitas produksi itu merupakan bagian dari strategi perusahaan yang mulai menggeser fokus pengembangan usaha dari Eropa yang sedang dilanda krisis sekarang ini  ke negara berkembang seperti Indonesia.

Advertisement

“Sebagai perusahaan global,  kami selalu berusaha meningkatkan penjualan.  Saat Eropa masih dilanda krisis,  sementara Asia terus berkembang.  Saya sangat optimistis terhadap pertumbuhan penjualan di sini.  Kami mulai menggeser fokus kami ke negara berkembang,” ujarnya.

Sementara itu Budi Darmadi,  Dirjen Industri Unggul Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian,  mengatakan bahwa pertumbuhan Indonesia akan relatif stabil di kisaran 6-7 persen ke depan.

Budi mengatakan pertumbuhan ini akan mendorong investasi dan juga meningkatkan pangsa pasar mobil premium yang saat ini masih sekitar 6.000 unit per tahun.  “Oleh karena itu,  Mercedes sebaiknya menambah investasi jika tidak ingin ketinggalan,” ujarnya kepada tender-indonesia.com.

Mengutip pemberitaan TEMPO.Com,  perakitan mobil seri M-Class telah dimulai di Indonesia. Perakitan itu dilakukan berdasarkan indikasi iklim investasi di Indonesia yang semakin kondusif bagi pertumbuhan bisnis Mercedes-Benz Indonesia, seperti dijelaskan oleh Claus Weidner seusai kegiatan M-Class Start-off Production Ceremony, di Wanaherang, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat, pada  21 November 2012.

Mercedes-Benz mulai merakit sport utility vehicle(SUV) seri ML 350 4MATIC di pabrik tersebut setelah perusahaan meluncurkan seri tersebut pada pertengahan tahun ini. Perusahaan menargetkan produksi 30 unit seri tersebut sampai akhir tahun ini. Ia menjelaskan, Mercedes-Benz yang berbasis di Stuttgart, Jerman, itu, sudah melakukan perakitan lokal di Indonesia pada 1978.

Ketika itu, perakitan difokuskan untuk commercial vehicle. Pada 1987, perusahaan mulai merakit passenger cars secara lokal untuk kelas C-Class, E-Class, dan S-Class.

Weidner menambahkan, investasi Mercedes-Benz Indonesia saat ini mencapai 30 juta euro. Investasi selama tiga tahun pada tahun 2010-2012 berkisar 20-30 juta euro. Investasi tersebut mencakup kebutuhan teknologi, infrastruktur, serta proses set-up.

Ia menjelaskan, Eropa saat ini masih belum pulih dari krisis. Oleh karena itu, perusahaan berusaha memfokuskan bisnis di negara-negara berkembang, seperti negara-negara Asia Tenggara. “Termasuk Indonesia,” katanya. Weidner optimistis dengan pertumbuhan di kawasan Asia.

Penjualan kendaraan niaga naik 30 persen

Pertumbuhan penjualan produk kendaraan niaga pun mencapai  30 persen  dibandingkan dengan pencapaian tahun 2011. Director of Sales Commercial Vehicle Mercedes-Benz Indonesia Olaf Peterson mengungkapkan peningkatan penjualan tahun 2012  kian memantapkan pangsa pasar Mercedes hingga 60 persen pada segmen kendaraan pengangkut komoditas dan pendukung pembangunan infrastruktur.

Baca juga :   Pesanan Mengalir dari Dalam dan Luar Negeri

Olaf tidak bersedia menyebut realisasi penjualan produk kendaraan niaga perusahaan tahun ini. Dia menilai permintaan pasar terus meningkat prospektif mengikuti pertumbuhan industri transportasi dan logistik, serta kargo dan kontruksi umum.

“Indonesia merupakan pasar yang penting bagi Mercedes-Benz terutama untuk segmen produk rear engine luxury bus. Hingga kini, kami masih menjadi pemain terdepan dalam persaingan produk rear engine,” ungkapnya saat dijumpai pada acara fleet owner gathering yang digelar di Surabaya pada 22 November 2012.

Mercedez-Benz Indonesia hari ini memperkenalkan produk terbaru dari jajaran kendaraan niaga ramah lingkungan berstandar Euro 3 di Surabaya, yaitu Sasis Bus OH 1626 dan OH 1830. Kehadiran kedua produk anyar itu, kata Olaf, diharapkan makin meramaikan industri kendaraan niaga di Indonesia.

Di tempat yang sama, manajer penjualan bus Mercedes-Benz Indonesia, Diyanto Prayudiman optimistis sejumlah produk angkutan niaga yang dibesut Mercedes akan menerima sambutan hangat dari industri yang membutuhkan kendaraan berspesifikasi tinggi.

Diyanto mengatakan Sasis Bus  OH 1626 dan 1830 telah dibekali teknologi pendukung yang memungkinkan konsumsi bahan bakar lebih efisien, ramah lingkungan, bertenaga besar, serta diperkuat fitur suspensi udara.

“Air Suspension itu sudah menjadi standar pabrik Mercedes sejak diproduksi di fasilitas perakitan di Wanaherang, Bogor,” jelasnya.

Diyanto menilai Sasis Bus OH 1626 akan menjadi pilihan yang tepat bagi pelaku industri yang membutuhkan angkutan bermesin 6 silinder segaris dengan torsi 950 Nm sejak 1.200 rpm—1.600 rpm. Dengan begitu, tenaga yang dapat dihasilkan mencapai 260 Hp, dengan konsumsi bahan bakar lebih efisien.

“Tenaga Sasis Bus OH 1830 lebih besar lagi sekitar 300 Hp pada 2200 rpm, serta kapasitas torsi hingga 1200 Nm. Itu memungkinkan kendaraan mengatasi hambatan medan yang berat yang pasti butuh torsi besar,” jelasnya.

Sepanjang semester I/2012, permintaan terhadap truk dan bus sebagai kendaraan niaga di Indonesia terus meningkat, ditandai dengan kenaikan penjualan hingga 30,6 persen seiring semakin membaiknya pertumbuhan ekonomi di tanah air.

Data penjualan mobil niaga yang diperoleh Bisnis dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan truk dan bus pada semester pertama mencapai 74.523 unit, naik 17.486 unit dari periode sama tahun lalu sebanyak 57.037 unit. (Sumber: tender-indonesia, TEMPO.Com dan Bisnis)

Incoming search terms:

Advertisement

1 KOMENTAR

Tulis Opini Anda