INVESTASI PELINDO III

Bangun Kawasan Industri & Pelabuhan Pesiar dan Modernisasi Alat Bongkar Muat

1
19

Perusahaan Pelabuhan (Pelindo)­­­ III Cabang Tanjung Perak, Surabaya, sedang giat-giatnya menyelesaikan berbagai poryek. Nilai investasi beragam mulai dari Rp2 miliar, Rp10 miliar,  Rp4 triliun, Rp10 triliun hingga US$22 juta.

131023-01a

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  yakni  Pelindo III perusahaan jasa pelabuhan sedang mengembangkan sebuah kawasan industri  yang demikian luas—bahkan disebuit raksasa—terintegrasi dengan pelabuhan dan kompleks perumahan. Pembangunan  proyek itu mulai dikerjakan pada pertengahan Oktober 2013. Pembangunan proyek itu merupakan wujud kepecercayaan terhadap Pelindo III—belum  pernah terjadi di Indonesia—kecuali pada Pelindo III.  Pembangunan pada tahap pertama,  proyek ini membutuhkan dana hingga Rp4 triliun.

Advertisement

Dengan kepercayaan itu, Direktur Utama Pelindo III Jarwo Suryanto  merasa terhotmat karena dipercaya. Dia tidak mau mengklaim bahwa perusahaan yang dipimpinnnya itu merupakan yang pertama kali mendapatkan kepercayaan.  “Silakan Anda yang menilai,” ujrnya kepada wartawan.

Kawasan industri yang sedag dibangun itu dinamai sebagai Java Integrated Industrial Port dan Port Estate (JIIPE). Lokasinya terdapat di daerah Gresik,  Jawa Timur.  Kawasan industri itui dibangun di atas lahan seluas 2.500 hektar dan 370 hektar diperuntukkan sebagai pelabuhan.

Pelindo III merencanakn bawa tahap pertama beroperasi pada Oktober 2014.  Pabrik-pabrik yang beroperasi di kawasan industri itu dapat menggunakan dermaga untuk turunkan barang modal pada tahun 2014. Sementara itu, manajemen Pelindo III sedang gencar-gencar menjual lahan kawasan industri kepada para investor—terutama kepada berbagai pihak yang menrencakan pembangunan berbagai industri yang tentu saja membutuhkan mesin-mesin, alat produksi, dan teknologi iyang ditrerapkan di pabrik-pabrik.

Sementara untuk pengembangan fasilitas perumahan,  Pelindo III menggandeng mitra usaha yakni PT AKR Land Development.  Pihak mitra bertugas membebaskan lahan seluas  500 hektar dan membangun perumahan.  Rumah-rumah yang dibangun akan dijual kepada para pekerja,  baik lokal maupun ekspatriat yang bekerja di kawasan JIIPE.

Pada pembangunan tahap I seluas 700 hektar,  Pelindo III sudah melakukan penawaran.  Jarwo mengaku sudah banyak investor yang berencana dan sudah membeli atau menyewa lahan di kawasan JIIPE.  Umumnya perusahaan tersebut bergerak pada industri crude palm oil (CPO) dan turunannya.  Sementara itu, luas pelabuhan mencapai  370 hektar dan pembangunannya sudah dimulai 50 hektar. Dana Rp4 miliar yang diperuntukkan untuk membiayai tahap I diperoleh dari injaman dan internal.  Manajemen Pelindo III berencana menerbitkan obligasi dan pinjaman untuk membiayai pembangunan tahap 2.

Setelah tahap pertama ini kelar tahun 2014,  dilanjutkan dengan pembangunan tahap 2 dan tahap 3 berupa pembangunan pelabuhan seluas 300 hektare yang berada tepat di depan kawasan industri.  Pelabuhan itu bisa menjadi fasilitas bagi perusahaan-perusahaan untuk pengiriman logistik barang modal hingga untuk keperluan ekspor.

Pengembangan pelabuhan di kawasan Gresik merupakan solusi  terhadap tingginya tingkat arus bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak,  Surabaya. Konsep bisnis Pelindo III dapat menekan biaya logistik dari hulu hingga ke hilir yang saat ini cukup tinggi dan sering dikeluhkan oleh para pengusaha.

Bangun ‘markas’ kapal pesiar di Benoa Bali

131023-01b

Bisnis operator pelabuhan pelat merah ini sedang menyipakan pembangunan Pelabuhan Benoa Bali yang dijadikan sebagai turn around port atau base camp (markas) kapal pesiar di Indonesia.  Program itu merupakan bagian dari pembangunan jalan tol sepanjang lebih 12 km di atas laut Bali.

Dengan pelabuhan markas kapal pesiar itu, para pelancong manca negara maupun domestik yang melancong ke Bali dapat mencoba kapal pesiar untuk berkeliling ke berbagai penjuru perairan Indonesia. Kapal pesiar berangkat dari Pelabuhan Benoa, Bali.

Menurut Direktur Utama Pelindo III Jarwo Suryanto, para wisatawan yang terbang ke Bali dapat melanjutkan perjalanan dengan naik kapal cruise keliling Indonesia.  Tujuan utama para pelancong umumnya ke Indonesia bagian Timur. Setelah berlayar dengan kapal pesiar, para pelancong kembali ke Bali kemudian terbang kembali  negara asal.

Selama ini,  pelabuhan-pelabuhan di Indonesia hanya digunakan oleh para pelancong dunia sebagai lokasi transit kapal pesiar dunia.  Kapal pesiar yang sering memasuki perairan Indonesia berasal dari Singapura dan Australia.  Untuk meningkatkan lama berwisata di Indonesia, maka Pelabuhan Benoa dijadikan sebagai  markas kapal pesiar untuk keliling Indonesia. Oleh karena itu,Pelindo III menargetkan pengembangan dan penguatan Pelabuhan Benoa selesai pada awal 2014.

Baca juga :   Pelindo Investasi Rp1,5 triliun di Teluk Lamong Jawa Timur

Jarwo  mengharapkan, para pelancong turun di Bali, Raja Ampat, dan Bunaken.  Jika pelabuhan-pelabuhan di Indonesia sering disandari kapal-kapal pesiar dari mancengara hal itu berdampak positif bagi bisnis dan ekonomi seperti belanja makanan dan suvenir di pelabuhan-pelabuhan yang disinggahi kapal.

Untuk pengembangan kawasan terminal dan pelabuhan di Benoa itu, Pelindo III menggelontorkan investasi penguatan dermaga selatan dan timur sebesar Rp100 miliar,  pembangunan terminal penumpang domestik Rp8 miliar,  pembangunan ponton untuk kapal pesiar kecil Rp2 miliar,  dan pengerukan turning basin hingga kedalaman 12 meter dengan investasi Rp60 miliar.

Selain mengembangkan kawasan Pelabuhan Benoa,  Pelindo III juga meningkatkan kapasitas pelabuhan di kawasan pusat wisata yang berada di bawah pengelolaan perseroan.

Sebanyak US$22 juta modernisasi alat bongkar muat

Selain membenahi pelabuhan untuk markas kapal pesiar, Pelindo III membeli 11 unit electric rubber tyred gantry (e-RTG) yang dioperasikan di Terminal Peti Kemas Semarang, Jawa Tengah. Untuk itu, manajemen mengalokasikan US$22 juta. Perseroan tidak hanya memodernisasi fisik pelabuhan, juga memodernisasi peralatan bongkar muat barang. Dengan demikian, pelayanan yang baik di pelabuhan  akan  meningkatkan produktivitas yang berpengaruh signifikan terhadap penjualan pelayanan.

Salah satu modernisasi peralatan yang akan dikerjakan adalah dengan melakukan pengadaan alat angkut 11 unit electric RTG yang  dioperasikan di Terminal Petikemas Semarang.

Pada tahun 2013, Pelindo III sudah melakukan studi untuk melakukan pembelian 11 unit alat angkut elektronik yang akan digunakan di Terminal Peti Kemas Semarang tahun 2014. Penggunaan alat elektronik itu bertujuan untuk melayani para pelanggan selama 24 jam—baik kegiatan penerimaan dan pengiriman baran. Biaya operasional penggunaan E-RTG ini dinilai lebih hemat 50 persen hingga 60 persen dibandingkan menggunakan mesin diesel. Maklum, biaya perawatan mesin diesel jauh lebih mahal.

Kepala Humas Pelindo III Edi Priyanto menambahkan pendanaan untuk investasi peralatan itu mencapai US$22 juta atau setara dengan Rp220 miliar dengan asumsi per unit E-RTG dibanderol mencapai US$2 juta.

Sebagai perbandingan, beban biaya untuk crane diesel mencapai US$115,90 per tahun, sedangkan elektrik US$32,47 per tahun. Beban diesel US$0,76 per liter, sedangkan elektrik hanya US$0,16 per kWh.

Adapun beban alat kerek diesel mencapai US$15,86 per jam sedangkan elektrik US$3,22 per jam. Diesel mampu menggerakan 10 kontainer per jam dengan kebutuhan bahan bakar 21 liter, sedangkan elektrik menggerakan 10 kontainer per jam dengan biaya 20 kWh.

Menurut Prasetyadi keberadaan RTG ialah inovasi karena sebelumnya bermesin diesel kini menjadi elektrik.

Karena dioperasikan dengan listrik, penggunaan E-RTG diyakini bisa menurunkan emisi gas buang CO2 hingga 70  persem dan konsumsi bahan bakar juga lebih hemat 50 persen dibanding dengan sitem RTG solar.

Menurut Kepala Humas PT Pelindo III, Edi Priyanto, biaya operasional untuk satu unit RTG berbahan bakar solar biasanya mencapai US$115,801 per tahun. Sementara biaya operasional E-RTG hanya dikisaran US$23,477 per tahun, turun 70 persen lebih dibanding RTG solar.

Pergerakan jumlah bongkar muat petikemas domestik di Terminal Petikemas Semarang (TPKS) pada tahun 2013 menunjukkan peningkatan. Arus petikemas terbesar di Semarang berasal dari Banjarmasin dan Surabaya.

Realisasi arus petikemas di TPKS hingga Agustus 2013 mencapai 726 Box atau mengalami kenaikan mencapai 147 persen dari bulan sebelumnya—Juli 2013 yang mencapai 493 Box.

Semakin ramai jalur pengiriman petikemas domestik melalui pelayaran via TPKS dapat memberikan kontribusi positif terhadap kepadatan pantura. Pengiriman petikemas melalui jalur darat Jakarta-Semarang maupun Semarang-Surabaya melalui Pantura mulai beralih melalui jalur laut. Petikemas kosong yang berasal dari Jakarta direlokasi menggunakan kapal domestik sehingga bisa mengurangi beban di jalur pantura. (Bahan diolah dari berbagai sumber seperti tender-indonesia.com, http://kabarbisnis.com/, http://industri.bisnis.com/, http://www.pp3.co.id dan lain-lain)

Advertisement

1 KOMENTAR

  1. PEREMAJAAN PERALATAN PRODUKSI SANGAT WAJIB DILAKUKAN OLEH PERUSASHAN-PERUSAHAAN YANG ADA DI INDONESIA, HAL INI AGAR DAPAT MENEKAN PEMBIAYAAN DAN MENINGKATKAN NILAI SAING PENGJUALAN JASA DAN PRODUK, ALANGKAH BAIKNYA JIKALAU PERALATAN YANG DI BELI ADALAH KARYA ANAK BANGSA, SEHINGGA MEMUTARKAN LAJU EKONOMI DAN MENGURANGI JUMLAH PENGGANGGURAN. TERUSLAH BERKARYA BANGSAKU

Tulis Opini Anda