BUATAN INDONESIA (2)

Bandung Siap Luncurkan Pesawat N- 219

0
37
Meski gambar pesawat terbang N-219 di atas merupakan rekayasa para insinyur kita, namun kita bangga karena Indonesia pernah ngembangan pesawat N-250 yang telah mengudara pada tahun 1995, namun terhenti sejak pergantian regim pemerintahan dari order baru ke reformasi. (Sumber foto/@: http://www.nefosnews.com/) Pesawat N-250 buatan IPTN

Meski menggunakan mesin Pratt & Whitney buatan Kanada, kita bangga bahwa bodi, konstruksi, struktur pesawat terbang N-219 dibuat oleh anak bangsa. Terima kasih Pak Habibie yang mengudarakan pesawat terbang N-250 meski kandas pada pergantian regim penguasa.

Meski gambar pesawat terbang N-219 di atas merupakan rekayasa para insinyur kita, namun kita bangga karena Indonesia pernah ngembangan pesawat N-250 yang telah mengudara pada tahun 1995, namun terhenti sejak pergantian regim pemerintahan dari order baru ke reformasi. (Sumber foto/@: http://www.nefosnews.com/) Pesawat N-250 buatan IPTN
Meski gambar pesawat terbang N-219 di atas merupakan rekayasa para insinyur kita, namun kita bangga karena Indonesia pernah ngembangan pesawat N-250 yang telah mengudara pada tahun 1995, namun terhenti sejak pergantian regim pemerintahan dari order baru ke reformasi. (Sumber foto/@: http://www.nefosnews.com/)

Pesawat N-250 buatan IPTN melesat ke udara pada saat penerbangan perdana tahun 1995. Namun, sejak pergantian regim pemerintahan dari orde baru ke era reformasi, cerita pesawat N-250 rancangan B.J. Habibie itu, kandas tidak kedengaran lagi sejalan dengan pergantian nama IPTN menjadi PT Dirgantara Indonesia yang berlokasi di Bandung. Penghentian produksi missal itu memang salah satu yang dihentikan berkat rekomendasi IMF pasca krisis ekonomi 1998.

Kita bersyukur bahwa PT DI tetap beroperasi meski pernah beredar rumor bahwa perusahaan ini terpaksa memroduksi panci karena kurang modal. Bahkan ribuan eks karyawannya pernah unjuk rasa selama berbulan-bulan untuk mendapatkan pesangon. Pak Habibie tentu saja merasa sedih jika PT DI yang didirikannya itu sirna ditalan zaman.

Advertisement

Beberapa lembaga lain seperti Lapan(Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional), BPPT (Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi) , dan ITB (Institut Teknologi Bandung), Bppaneas, Kemengterian Periundustrian, membentuk semacam kolaborasi dan menyepakati pembuatan pesawat N-219 sebagai wujud pesawat N-250 yang pernah mencengangkan dunia.

140924-02b

PTDI menyelesaikan pesawat yang disebutkan N-219. desain dan pengujiansedang diproses. Kantor Kemenristek dan Kemenperin bertugas menyiapkan Inpres yang dibutuhkan untuk menwujudkan pembuatan pesawat N-219 itu. Manufaktur pesawat N-219 ditangani oleh PTDIsedangkan kantor Bappenas dan Kementrian Perindustrian menangani dukungan anggaran serta pengembangan industri pendukung dan penciptaan cluster industri dalam proses produksi pesawat terbang N-219. .Sementara sertifikasi pesawat dilakukan oleh Kementerian Perhubungan.

Kita bersyukur bahwa program pengembangan pesawat terbang N-219 memasuki tahap detail design. Salahsatu kegiatannya adalah proses analisis aerodinamika dengan menggunakan program komputer CFD sedangkan verifikasi menggunakan hasil uji Wind Tunnel. Untuk uji wind tunnel power-on N-219 dilaksanakan oleh Lapan pada tahun 2012.

Sebagian besar struktur pesawat N-219 merupakan buatan dalam negeri hingga 60 persen dan 40 persen harus diimpor antara lain mesin yang didatangkan dari Kanada. Pesawart N-219 menggunakan mesin Pratt & Whitney buatan Kanada seperti diutarakan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI Andi Alisjahbana. Kepala Program N-219 dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Agus Aribowo menuturkan bahwa struktur pesawat terbang N-219 buatan putera-puteri kita adalah ban, shock, dan desain interior pesawat seperti bangku, kaca, dan meja.

Baca juga :   Apa Manfaat Sensor Gambar Berbasis Monolitik?

Sementara roda yang digunakan pesawat N-219 adalah hasil kerja sama dengan Achilles perusahaan yang membuat ban tentu saja harus disertifikasi. Komponen pendukung lain yang dibuat oleh perusahaan lokal (Indonesia) adalah landing gear, shock karet,, kaca jendela, kursi dan interior—semuanya melalui sertifikasi.

Proyek pembuatan pesawat terbang N-219 yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (DI) dan bersama Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) ditargetkan rampung pada April 2015. Direncanakan empat pesawat N-219 selesai dirakit April 2015, demikian   Gusti Muhammad Hatta Menteri Riset dan Teknologi era pemerintahan Presiden Bambang Susilo Yudhyono.

Meski pesawat terbang N-219 masih dalam bentuk prototype, namun Garuda Indonesia telah memesan 100 unit dan 50 unit dipesan oleh perusahaan lain. Oleh karena itu, PT DI dan Lapan harus bekerja keras agar pihak pemesan (perusahaan nasional) tidak kecewa. Untuk itu, PT DI telah membuat mock up pesawat N-219–termasuk menyiapkan materi dan spesifikasi yang diperlukan untuk pembuatan model dan engineering flight simulator. Sedangkan Lapan yang mampu membuat dan meluncurkan roket itu mendesain dan pengembangan pesawat terbang N-219.

Manajemen PT DI dan Lapan mengerahkan 28 peneliti yang bekerja pada bidang avionik, elektrikal, propulsi, engineering flight simulator, aerodinamika, dan analisis struktur.

Pesawat terbang N-219 dirancang untuk kapasitas 19 penumpang dan akan dijual seharga US$ 4,5-5 jutarelatif murah. Tujuannya agar pasar cepat menyerap pesawat terbang N-219. Harga itu bisa ditekan lebih murah karena penggunaan local content yang tinggi.

Sesuai dengan rencanapesawat terbang N-219 mulai diproduksi pada tahun 2016, dan pengembangannya hingga sertifikasi direncakan berjalan mulus meski terjadi pergantian pemerintahan dari Presiden SBY ke pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Pengembangan pesawar N-219 menggunakan dana PT DI yang sepenuhnya didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Kita berharap nasib pesawat N-219 tidak seperti nasib pesawat N-250rancangan B.J Habibie. Lagi pula, pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk baik dibanding kondisi tahun 1997. (Diolah dari berbagai sumber)

Simak artikel terkait dengan topik buatan indonesia (1)
Habibie Rancang R-80 dengan Software Dassault Systems

Advertisement

Tulis Opini Anda