FGDEXPO (3)

Penerbit Besar dapat Proyek, Bagaimana UKM dapat Bisnis?

0
95
Milah S. Aprianto (kiri) dan Budi Toto Yeryanto keduanya dari PT Multi Sistem Teknologi dan mesin lithrone (first h-uv print technology, gambar kanan) di Indonesia yang mampu mencetak 3 dimensti. Mesin buatan Jepang ini dipasarkan oleh PT Bintang Sempurna. Kinerjanya pun sempurna yang  mampu mencetak ketebalan bahan hingga 37 inci. Para pengunjung yang membludak ke booth mendapat poster-poster yang gambarnya tampak cerah dan apik. (Foto: Rayendra L. Toruan) 

Banyak majalah dan penerbit surat kabar menutup usaha, apakah hal itu berpengaruh terhadap industri grafika dan kemasan?

Kumori-Japan
Milah S. Aprianto (kiri) dan Budi Toto Yeryanto keduanya dari PT Multi Sistem Teknologi dan mesin lithrone (first h-uv print technology, gambar kanan) di Indonesia yang mampu mencetak 3 dimensti. Mesin buatan Jepang ini dipasarkan oleh PT Bintang Sempurna. Kinerjanya pun sempurna yang  mampu mencetak ketebalan bahan hingga 37 inci. Para pengunjung yang membludak ke booth mendapat poster-poster yang gambarnya tampak cerah dan apik. (Foto: Rayendra L. Toruan)

Meski banyak penerbit menghentikan penerbitan majalah dan dan koran, industri percetakan justru meningkat 14,98 persen seperti diungkapkan oleh Danton Sihombing yang mengetuai berbagai dikusi melalui FGD forum. Sementara pertumbuhan printing (percercetakan) tumbuh 13,2 persen per tahun. Jangan kaget, penerbit-penerbit besar yang menutup usaha media cetak justru sering mendapatkan order cetak dari perusahaan lain—seperti pembuatan termasuk design laporan tahunan dan sebagainya. Bagaimana dengan usaha kecil dan menengah (UKM)?

Industri grafika akan terus berkembang, tandas Danton Sihombing optimis. Oleh karena itu, gagasan connectivity merupakan salah satu cara untuk menghubungkan segmen-segmen yang aktif bersentuhan dengan industri grafika. Industri grafika membutuhkan content creators, print buyers, perusahaan desain, periklanan, dan marketing. Tak kalah peran service providers termasuk percetakan, penerbit, dan digital platform developers, produsen, dealer, distributor, lembaga pendidikan hingga asosiasi profesi. UKM pun bisa berkembang.

Advertisement

Melalui FGDexpo, para peminat grafika berkesempatan mendalami teknologi mesin, industri grafika dan kreatif, dan sejumlah program pendukung seperti Print CEO Talk, Connect Conference for Print Buyers and Print Service Provider, Print Pack Outlook Conference, Creative Business Cup Indonesia, CampusFab Lab Workshop, CampusMasterClassGathering, dan Graphic Design Award.

 

Pergeseran bisnis

Kegiatan campus misalnya masyarakat umum mudah mendapatkan informasi yang terkait dengan industri grafika dan industri kreatif  yang disampaikanb dengan pola master class yang pesertanya bukan hanya pelaku industri grafika.

Ketua FGDexpo 2017 Andreas Bastedo mengungkapkan tema connectivity mewakili tiga  poin yang berkaitan untuk mendukung perkembangan industri grafika Indonesia,value creation chain, solutions, dan opportunities sehingga rantai ini akan mendorong tumbuh kembang industri grafika.

Dengan  value creation chain terjadi nilai dari terobosan kreativitas desain dan teknologi yang memengaruhi kerja para penggiat industri grafika. Sedang solusi inovatif dari ekosistem teknologi misalnya on-demand publishing, kemasan digital, tekstil, dekorasi interior, percetakan 3D (tiga dimensi)—mendorong produktivitas pelanggan, kemampuan baru dari industri, dan investasi nasabah. Sedangkan poin rantai opportunities adalah tren pasar baru yang tercipta dari kehadiran teknologi inovatif yang memfasilitasi bisnis para pemain industri grafika Indonesia.

Baca juga :   Memanfaatkan Digital untuk Bisnis Online

Di bidang industri kemasan misalnya, Indonesia jauh tertinggal dibanding negara lain seperti Singapura, Malaysia, apa lagi dengan Korea Selatan dan Jepang. Pebisnis yang tertarik menggeluti kemasan walau sudah siap dengan dana, tidak serta merta membeli mesin secara langsung tanpa penguasaan pengetahuan dan teknologinya.

Demikian juga para penerbit yang mempunyai mesin-mesin percetakan dan telah menutup usaha penerbitan, masih berpeluang menciptakan bisnis baru tanpa mengorbankan
“nasib” mesin-mesinnya. Pertumbuhan logistik yang demikian pesat bepengaru signifikan terhadap industri kemasan. Oleh karena bisnis retail bakal  meredup maka barang-barang  yang dijual secara online butuh kemasan (packaging).

Hasil mesin print technology mudah kering dalam sekejab, ramah lingkungan, kecepatan tinggi, dan beragam ukuran kertas atau bahan dapat dicetak yang jumlahnya 15.000 lembar per jam. Sementara PT Multi Sistem Teknologi menggelar beberapa jenis mesin buatan China seperti mesin cetak crystal sign yang harganya Rp450 juta per unit. Sedangkan mesin lainnya dipatok dengan Rp260 juta per unit yang mampu mencetak 330 m2  per jam.

Anda berminat menggeluti bisnis grafika atau packaging? Ikuti kisah sukses PT paperina dan penjual mesin label merek EPSON yang harganya mulai dari Rp500.000 hingga Rp110 juta. Jika Anda mempunyai  benda-benda berharga (termasuk ponsel) sebaiknya ditandai dengan label agar mudah melacaknya—jika misalnya hilang atau terselip.

Masih beragam kisah menarik dari industri grafika dan kemasan ini. Pergeseran dan diversifikasi bisnis  terus berubah dan berkembang sesuai dengan kehadiran digital driver.

FGDexpo (1)
Industri Kreatif Butuh Ribuan Anak Muda

 

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda