PERAN TEKNOLOGI (3)

Bagaimana Tim Dokter Membedah Hati dengan Bantuan 3D?

0
64
Perbesaran realitas di dalam kamar operasi melalui sebuah iPad, yaitu suatu software perencanaan navigasi yang memudahkan pengambilan keputusan pengobatan dan memperbaiki kualitas kesehatan pasien. (Sumber foto/@: Junko Kimura/Fraunhofer)

Bagaimana cara menghindari agar tidak menjalani operasi hati—apalagi sampai transpalasi hati? Ya, jawabnya sederhana: hiduplah dengan sehat—seperti  telah kita uraikan pada artikel lain. Apa gejala yang dirasakan jika hati terkena sakit?

Perbesaran realitas di dalam kamar operasi melalui sebuah iPad, yaitu suatu software perencanaan navigasi yang memudahkan pengambilan keputusan pengobatan dan memperbaiki kualitas kesehatan pasien. (Sumber foto/@: Junko Kimura/Fraunhofer)

Hidup sehat itu sangat tidak ternilai. Bayangkan jika seseorang (terpaksa) menjalani operasi hati, biayanya cukup besar lebih dari Rp50 juta.   Menurut laman obatkankerhati.web.id,  operasi hati dilakukan jika seseorang menderita kanker hati. Sekitar 85 persen kasus kanker hati  terjadi di negara-negara yang masih berkembang—termasuk  Indonesia.

Penyebab tingginya kasus hepatitis B dan C di negara-negara berkembang muncul dari hati—bukan  akibat keganasan dari organ lain yang menyebar ke hati atau metastasis ke hati. Tanda atau gejala klinis antara lain terjadi hepatomegali atau pembesaran hati, sakit perut, ikterus, atau gangguan hati lainnya. Kita harus waspada.

Advertisement

Secara ringkas, gejala klinis kanker hati ditanda dengan gumpalan tumor terbentuk ketika sel-sel mulai berkembang dan bereproduksi secara tidak terkendali, kulit,  dan bagian putih mata menjadi menguning, berat tubuh turun tanpa sebab, penderita merasa sangat lelah dan lemas, timbul rasa mual dan muntah, organ hati membengkak, urin berwarna gelap, timbul rasa gatal-gatal, dan merasa sakit perut.

Bagaimana jika seseorang penderita harus menjalani bedah atau operasi hati?  Kita berterima kasih kepada para ahli yang menciptakan teknologi dan alat kesehatan—termasuk  software MEVIS yang mampu menghasilkan gambar 3D untuk membantu tim dokter saat melakukan pembedahan atau operasi hati.

Dengan menggunakan perangkat lunak MEVIS, maka hasil yang diperoleh oleh tim bedah  lebih aman dengan presisi yang lebih tepat. Tim dokter bedah dengan mudah  mengetahui posisi  atau letak pembuluh-pembuluh darah sehingga tidak tersayat pada saat dilakukan operasi atau bedah hati.

 

Pembuluh darah tidak boleh tersayat

Suatu operasi hati menuntut konsentrasi yang penuh dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Suatu tim bedah berusaha untuk membuang sebuah tumor hati yang berbahaya dari tubuh pasien. Hati merupakan suatu organ yang rumit, maka proses operasinya pun menjadi sulit dan menghabiskan waktu hingga berjam-jam.

Kepala Penelitian untuk hati di Fraunhofer Institute for Medical Image Computing MEVIS, Andrea Schenk menjelaskan, banyak pembuluh darah yang melewati hati untuk mensuplai organ tersebut dengan 1,5 liter darah setiap menit.

Baca juga :   Bagaimana Dokter Mengeluarkan Tumor dari Hati?

Ia menambahkan, merupakan hal yang vital bagi para dokter bedah yang harus mengetahui dengan pasti posisi pembuluh darah berada ketika tim sedang melakukan operasi. Jika satu irisan  saja salah mengakibatkan pendarahan yang hebat bagi pasien dengan potensi akibat yang serius. Pembuluh darah di hati tidak boleh ada yang tersayat.

Teknologi baru yang dikembangkan di MEVIS telah membantu untuk meminimalisasi resiko yang bisa menambah penderitaan pasien. Fitur kunci dari peralatan yang baru ini berdasarkan pada suatu alat yang sudah setiap hari digunakan untuk berselancar di internet—untuk membaca atau menghibur diri dari iPad.

Bagaimana perangkat lunak itu ditemukan?  Awalnya, gagasan berasal  dari Itaru Endo dan Ryusei Matsuyama—dua orang dokter bedah dari Yokohama City University School of Medicine, Jepang. Kedua dokter itu  berpengalaman di bidang pengembangan software di Bremen, Jerman.

Software atau perangkat lunak itu menggunakan gambar-gambar tomografi komputer untuk memperhitungkan letak pembuluh darah yang mengalir melewati hati seorang pasien. Gambar bisa tampil dalamn 3D.  Dengan gambar 3D itu, tim dokter bedah mudah merencanakan operasi yang lebih seksama dan tepat tanpa efek yang menyebabkan resiko fatal.

Tim bedah harus mampu  memperkirakan lokasi bagian hati secara pasti agar saat dilakukan  operasi—tentu dengan menayat bagian  yang diperlukan pada saat a saat penanganan tiap individu (pasien) yang menjalani operasi.

Bagaimana cara kerja perangkat lunak agar pasien (operasi hati) tidak kehilangan banyak darah? (Bahan diolah dari Liver operation app tulisan  Frank Grotelüschen, Fraunhofer dan ://obatkankerhati.web.id

 

 

Advertisement

Tulis Opini Anda