PELUANG INVESTASI

Ayo Batam, Bisa Lebih Hebat dari Singapura

0
176
Salah satu pabrik di kawasan bebas Batam (Sumber foto:www.bjsgroup.com/)

Sebanyak US$121,87 juta dikucurkan oleh 10 perusahaan asing di Batam tahun 2013. Investasi tahun 2014, ditargetkan US$350 juta. China, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia,Jepang,  Amerika Serikat, Kroasia, dan Skotlandia juga siap masuk ke Batam.

Salah satu pabrik di kawasan bebas Batam (Sumber foto:www.bjsgroup.com/)
Salah satu pabrik di kawasan bebas Batam (Sumber foto:www.bjsgroup.com/)

Tanpa Indonesia dan Malaysia, Singapura pasti kesulitan  mendapatkan kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya. Akan tetapi, kenapa negeri berpenduduk kurang-lebih 4 juta jiwa ini seolah-olah mengendalikan ekonomi bisnis di Asia Tenggara? Ratusan bahkan mungkin ribuan perusahaan kaliber dunia memilih Singapura sebagai tempat pijakan untuk melakukan ekspansi bisnis—seperti industri manufaktur, keuangan, dan jasa lainnya—di belahan Asia hingga Australia. Bandingkan dengan Batam dengan penduduk 1.153.850 juta jiwa—kebanyakan pendatang—yang mendiami Batam seluas 715 km2 jauh lebih luas dari Singapura yang hanya 699 km2 dan itu pun hasil reklamasi yang pasirnya didatangkan dari Indonesia.

Indonesia mempunyai bahan pangan seperti ikan,  sayuran, buah-buahan, kopi, dan sebagainya dibeli dari Indonesia dengan harga relatif lebih murah. Setelah diproses menjadi produk berkualitas internasional, Singapura-lah yang menikmati nilai tambah. Demikian pula komoditi lainnnya, bahan kebanyakan bahan baku—seperti garmen, kayu, hasil tambang seperti minyak—diolah di Singapura.

Advertisement

Dalam lima tahun terakhir ini, Singapura pun gencar menjual sektor pendidikan dan jasa kesehatan ke Indonesia. Bahkan produk properti di Singapura dibeli oleh kebanyakan orang Indonesia. Kita sukar mendapatkan data jumlah perusahaan konglomerat asal dan milik orang asli Indonesia yang berganti status menjadi PMA (Penanaman Modal Asing) yang meraup untung besar dan membuang limbahnya di bumi Nusantara. Namun perusahaan-perusahaan itu dikendalikan dari Singapura. Bahkan para trainer dari Singapura menjadikan Indonesia sebagai lahan subur. Kita tidak tahu apakah mereka membayar pajak dari seminar-seminar, training, dan kursus-kursus yang mereka lakukan di Indonesia. Apakah kita selamanya dikendalikan oleh Singapura?

Batam bisa berbuat banyak

Tentu saja Indonesia lebih berpeluang meninggalkan Singapura di segala bidang. Syaratnya, sederhana, kita berniat, mempunyai keinginan maju, dan wujudkan nasionalisme dalam perbuatan dan tindakan nyata, misalnya dengan mengembankan sendiri potensi yang kita miliki. Kita di sini berarti sangat luas, berkaitan dengan para pembuat regulasi, undang-undang, peraturan, rencana, dan sikap masyarakat—utamanya para pelaku bisnis dan ekonomi.

Peta Pulau Batam (Sumber: www.humasbatam.com/)
Peta Pulau Batam (Sumber: www.humasbatam.com/)

Kita berterima kasih kepada almarhum Presiden Soeharto yang jauh-jauh hari telah memulai pembangunan pulau Batam dan sekitar kepulauan Riau. Posisi Batam yang demikian strategis kini dijadikan beberapa perusahaan asing sebagai pusat kegiatan manufaktur dan jasa. Kalau kita konsisten, bukan tidak mungkin Batam dan sekitarnya menjadi pusat ekonomi dan bisnis di Asia Tenggara menghadapi Asean Economic Community tahun 2015.

Badan Pengusahaan (BP) Batam menyadari kelebihan dan keunggulan potensi yang dimiliki oleh Batam dan daerah sekitarnya. Mulai tahun 2014, BP menyiapkan tujuh proyek unggulan di Batam dan daerah sekitarnya yang mencakup perdagangan, pelabuhan bebas, dan lokasi investasi utama untuk kawasan Asia Pasifik.

Proyek-proyek penunjang pembangunan di Batam, antara lain, pembangunan jembatan yang menghubungkan Batam dengan Pulau Bintan, pembangunan koridor jalan tol, kereta api monoreal, pendirian pusat perbaikan dan perawatan pesawat grup Lion dan operator lain. Juga pembangunan pelabuhan Alih Kapal Tanjungsauh, perluasan Pelabuhan Batuampar, pembangunan waduk air bersih, pembangunan landas pacu, dan perluasan termiminal kedua Bandara Internasional Hang Nadim Batam.

Setelah jembatan Batam-Bintan selesai, diharapkan investasi akan meningkat di kedua daerah yang berstatus kawasan bebas itu. Sedangkan pembangunan jalan tol dimaksudkan untuk kelancaran akses barang-baran produksi dari pelabuhan ke kawasan industri di Batam. Para pekerja yang bekerja di sentra-sentra industri akan lebih mudah mendapatkan transportasi melalui monoreal.

BP Batam menyiapkan 150 ha lahan untuk dijadikan sebagai pusat perawaratan pesawat yang dioperasikan oleh Garuda, Lion, Ilthabi, dan Sriwijaya Air. Sedangkan  perluasan Dermaga Utara Pelabuhan Batuampar berkapasitas 650.000 TEUS dan proyek waduk air bersih di Tembesi sedang dikerjakan. Diharapkan, proyek-proyek pengembangan sarana dan prasarana/infrastruktur  itu dapat diselesaikan dalam lima tahun ke depan. Pengelola Batam optimis bisa mendatangkan investasi asing sebesar US$350 juta pada 2014.

Sementara itu, penggunaan bandara Internasional Hang Nadim selama tahun  2013, mencapai lebih 120 kali per hari dan meningkat menjadi lebih 150 kali per hari pada 2014. Dengan demikian jumlah penumpang dan penerbangan pada  tahun 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 30 persen.

Selain membangun fasiltas pendukung kegiatan para investor asing, tentunya BP Batam juga membenahi peraturan dan ketentuan agar tidakmenjadi hambatan bagi pebisnis asing. Kita mencatat, bahwa selama tahun 2013 beberapa persahaan asing telah menggelontorkan modal usaha di Batam.

Di kawasan bebas Batam, 90 investor asing telah menanamkan US$300 juta. Para investor asing itu berasal dari Singapura, Malaysia, Korea Selatan, China, Jepang, Skotlandia, dan BP Batam pun terus mempromosikan potensi dan daya tarik Batam ke Eropa, Amerika Serikat, dan Afrika—utamanya Afrika Selatan. Para investor asing tertarik membangun pabrik elektronik, industri manufaktur, perkapalan, industri gas, dan industri pendukung.

Baca juga :   PT Pelindo IV akan Kembangkan Pelabuhan Bitung Senilai Rp6 triliun

Tahun 2012, telah disetujui proposal bisnis dari 48 perusahaan asing, 13 perluasan usaha, dan 89 perusahaan baru yang merencanakan investasi sebesar US$208.566.500 padahal BP Batam merencanakan US$103.081.403. selanjutnya pada Januari dan Februari 2013, seperti dikutip  BISNIS.COM, 10 investor asing menanamkan modal sebesar US$121,87 juta di Batam. Salah satu perusahaan asal Singapura bergerak di bidang jasa penunjang konstruksi minyak dan gas mempekerjakan 3.827 orang.

Pada Desember 2013, investor 18 perusahaan asing  menanamkan modal US$53,6 juta yang meminati lama bidang usaha meski lebih  didominasi industri sektor perkapalan. Dari 100 perusahaan yang mengajukan rencana bisnis di Batam selama tahun 2013, sebagian  sudah merealisasikan investasi danyang lain  sedang menyiapkan rencana mendetail—karena menyangkut keamanan investasi pada masa yang akan datang.

China menangani sampah

Di bidang perbaikan, perawatan dan pembuatan kapal, perusahaan asing menanamkan modal sebesar US$21 juta, industri bangunan lepas pantai mencapai US$5 juta, dan perusahaan asal China tertarik bisnis pengolahan sampah bukan logam dengan investasi US$10 juta. Lokasi sampah yang dipilih adalah tempat pembuangan akhir (TPA) Telagapunggur.

Salah satu pabrik pipa di Batam. (Sumber: http://rpctechnologies.com/)
Salah satu pabrik pipa di Batam. (Sumber: http://rpctechnologies.com/)

Perusahaan Dok Kodja Bahari juga mengembangkan usahanya di Kawasan Perdagangan dan pelabuhan Bebas Batam. Perusahaan ini bekerja sama dengan   Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering. Pekerjaan pematangan lahan sedang dilakukan yang nantinya tempat pembangunan fasilitas perusahaan. PT Dok Kodja Bahari adalah galangan terbesar di Asia Tenggara yang mempoduksi kapal kebutuhan pertahanan dan angkutan.

Menurut data dari Kementerian Perindustrian, sebanyak 250  galangan kapal di Indonesia dan  70 galangan kapal berada di Batam. Lokasi Batam cukup menarik bagi perusahaan galangan kapal karena letak geografis berdekatan dengan Singapura yang hanya  20 km dari Batam. Oleh karena itu, Batam sangat membutuhkan pelabuhan container. Jika pelabuhan itu dapat segera dibangun, maka investor dari Kroasia akan segera memanamkan modalnya di Batam.

Seperti dituturkan oleh Walikota Batam, Ahmad Dahlan saat menerima kedatangan 40 investor asal Kroasia yang 60 persen tertarik bidang perkapalan dan kepelabuhanan,  dan 40 persen bidang lain seperti perbankan, mapping topography serta furniture. Investor asal Kroasia demikian tertarik mendengarkan lebihb 70  perusahaan perkapalan di Batam. Mereka tertarik membangun pelabuhan dan port management. Sementara itu, ASL Marine Holdings Ltd (ASL), induk usaha PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI), memperkuat bisnis pelayaran di Indonesia.  ASL telah menjalin perjanjian bersyarat untuk mengakuisisi galangan kapal (shipyard) di Batam, Kepulauan Riau dari Miclyn Express Offshore Limited (MEO) pada 24 Januari 2014.

Nilai akuisisi galangan kapal itu mencapai US$ 20 juta yang diumumkan oleh  ASL kepada Bursa Efek Singapura (SGX) menjelang aknhir Januari 2014. Transaksi bisnis itu melibatkan dua anak usaha ASL dan MEO yang beroperasi di Indonesia. ASL menggunakan PT Sukses Shipyard Indonesia, sedangkan MEO melibatkan PT Loh & Loh Construction Indonesia yang selama ini diketahui sebagai pengelola galangan kapal.

Ang Kok Tian, Chairman ASL menyatakan, akuisisi tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat bisnis pembuatan dan perbaikan kapal. Sebelum akuisisi ini, ASL sudah memiliki empat galangan kapal di Singapura, Guangdong (China) dan Batam (Indonesia).

Galangan kapal yang diakuisisi dari MEO letaknya berdekatan dengan unit ASL di Batam. Dengan demikian,  ASL mudah memperluas kapasitas bisnis perbaikan kapal. Pada 15 Januari 2014, ASL resmi mencatatatkan  CANI di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai perusahaan terbuka.Pada penawaran saham perdana, CANI melepas 208,36 juta saham yang dengan Rp200 per saham sehingga perusahaan ini mendapatkan  dana segar Rp41,67 miliar dari Initial Public Offering (IPO).

Seluruh dana IPO akan digunakan untuk membeli kapal jenis anchor handling tug suplly vessel (AHTS). Satu unit AHTS biasanya dibanderol Rp 40 miliar-Rp 50 miliar. Nah, ayo Batam, bisa lebih hebat dati Batam. (Bahan diolah dari berbagai sumber seperti Bisnis.com, www.humasbatam.com, Antara News, tender-indonesia.com, dan sumber-sumber lain)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda