POTENSI TAMBANG

Australia Minati 172 Proyek dan Freeport akan Gali 1.899 ton Emas di Papua

0
377

Kandungan perut bumi Nusantara menggoda 44 perusahaan dari Australia untuk menggali potensi 172 proyek pertambangan. Sedangkan Freeport terus menggali berupa bijih sebesar 2,5 miliar ton berupa  1.899 ton emas dan perak 33 juta ounce di Papua hingga tahun 2042. Freeport menganggarkan US$18 miliar untuk menggali tambang dari bawah tanah (Grasberg Bloc Cave) di Papua itu. Investor dari Amerika Serikat  pun akan mendirikan pabrik pengolahan batu bara menjadi  etanol,  metanol,  acetic acid, dan syngas di Balikpapan. Sementara investor dari China tertarik bidang usaha pengolahan produk tambang seperti nikel menjadi feronikel.

130430-01a

Sekretaris Parlemen Australia untuk perdagangan Kelvin Thomson MP menyatakan,  perusahaan-perusahaan di Australia berminat bermitra dengan perusahaan di Indonesia. Perusahaan dari Australia yang bergerak di sektor penyediaan alat,  pelatihan teknologi,  keahlian, dan jasa pertambangan telah menyampaikan minat mereka kepada beberapa perusahaan pertambangan besar di Indonesia.

Advertisement

Menurut Kevin,  pemerintah Australia telah memberikan kontribusi sebanyak Aus$17,45 juta sejak tahun  2007 sampai 2015 untuk EITI guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pendapatan dari sektor pertambangan,  minyak,  dan gas bumi.

“Komitmen ini diperkuat dengan investasi pemerintah Australia sebesar Aus$105 juta untuk Mining for Development Initiative selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.

130430-01b

Kalau perusahaan tambang dari Australia ingin masuk ke Indonesia, PT Bukit Asam Tbk  justru melebarkan  sayap ekspansi tambang batubaranya ke Myanmar.  Saat ini,  Bukit Asam  tengah melakukan uji kelayakan bisnis atau feasibility study (FS) seperti dipersyaratkan pemerintah Myanmar.  Setelah proses itu dinyatakan lolos,  barulah Myanmar memberikan memorandum of understanding (MoU) kepada Bukit Asam.

“Progres usaha kami ke Myanmar tengah dijajaki.  Surat permohonan sudah disampaikan ke pemerintah Myanmar, dan kami harus kita ikuti FS dulu,” kata Milawarma Direktur Utama PT Bukit Asam.

Pemerintah Myanmar menyarankan supaya Bukit Asam menggandeng perusahaan lokal negara itu.  Menurut Milawarma,  ada beberapa potensi bisnis yang bisa dikembangkan di Myanmar,  yakni mengembangkan tambang batubara,  membangun PLTU untuk tambang batubara,  dan memasok batubara kebutuhan  Myanmar.  “Ekspansi ke Myanmar ini juga sesuai dengan rencana Kementerian BUMN Indonesia,” sebutnya.

Milawarma belum bisa menyebut secara persis jumlah investasi yang akan digelontorkan. Besaran investasi sangat bergantung pada hasil uji kelayakan.  Selain berekspansi ke Myanmar,  perusahaan pelat merah ini juga tengah membidik Taiwan dan Vietnam sebagai pasar baru untuk penjualan batubara.  Langkah ini untuk mengantisipasi pelemahan permintaan batubara dari China.

Meski kinerja Bukit Asam menurun sebesar 8,63% dibandingkan periode sama tahun 2012 yakni sebesar Rp3,02 trilun, sementara pada kuartal I tahun 2013 ini hanya membukukan pendapatan sebesar Rp2,78 triliun, ekspansi perusahaan ini tetap ditingkatkan. Laba bersih perseroan turun sekitar 76% menjadi Rp493,18 miliar dibandingkan periode sama tahu 2012 yakni Rp 870,54 miliar.

“Realisasi pendapatan dan laba bersih dipengaruhi volume penjualan batubara,  harga rata-rata batubara,  dan persediaan akhir batubara,” jelas Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Joko Pramono.

Hingga kuartal I 2013,  penjualan batubara Bukit Asam tumbuh 17,14% menjadi 5,51 juta ton dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 3,85 juta.  Sedangkan,  rata-rata harga jualnya mencapai Rp 613.810 per ton.

Tahun 2013 ini,  Bukit Asam menargetkan kenaikan penjualan batubara sebesar 35,16% menjadi sebesar 20,68 juta ton,  dari sebelumnya mencapai 15,3 juta ton.

Cadangan emas di Papua 1.899 ton

130430-01c

Saat ini,  cadangan emas milik PT Freeport Indonesia di Papua mencapai 67 juta ounce atau sekitar 1.899 ton (1 ounce = 28,35 gram).  Tambang emas ini bakal digarap hingga tahun 2042.

Dari data Freeport,  cadangan tersebut berupa bijih sebesar 2,5 miliar ton.  Untuk emas sekitar 67 juta ounce,  sementara kandungan perak mencapai 33 juta ounce.   Cadangan ini didapat dari beberapa tambang Freeport,  antara lain DOZ (Deep Ore Zone),  Deep MLZ,  Big Gossan,  Grasberg Bloc Cave,  dan Kucing Liar.

“Tahun 2015 akan turun produksi Freeport.  Lalu di 2022 akan kembali produksinya,” ujar Rozik Boedioro Soetjipto Presiden Direktur PT Freeport Indonesa.

Freeport dikatakan Rozik,  meminta jaminan pemerintah di tengah renegosiasi beberapa klausul kontrak,  agar ada jaminan kontraknya terus berjalan hingga 2042.  Apalagi,  Freeport akan menganggarkan US$18 miliar atau sekitar Rp162 triliun untuk mengembangkan tambang bawah tanah terbesar di Papua.

Tambang bawah tanah itu akan menggantikan tambang terbuka yang selama ini memberikan kontribusi paling tinggi ke produksi perseroan.  Grasberg Bloc Cave yang letaknya langsung di bawah lokasi tambang permukaan saat ini diperkirakan akan menjadi andalan tambang bawah tanah ke depannya.  Kucing Liar,  diperkirakan baru akan berproduksi tahun 2025,  apabila ada perpanjangan kontrak kerja sama.

Seperti diketahui,  Freeport menjual 198 ribu ounces emasnya (1 ounces setara 31,1 gram) dari tambang Grasberg di Papua selama 3 bulan pertama atau kuartal I tahun 2013.  Jumlah ini menurun dari penjualan emas pada periode yang sama tahun 2012 sebanyak 266 ribu ounces.

Penjualan emas Freeport dari tambang emas terbesar dunia di Papua yang dimilikinya memang terus menurun.  Pada 2012,  penjualan emas Freeport dari Grasberg mencapai 915 ribu ounces turun dari penjualan di 2011 sebanyak 1,27 juta ounces.

Batu bara menjadi etanol,  metanol,  acetic acid, dan syngas

130430-01d

Sementara itu, investor asal Amerika Serikat menjajaki peluang untuk membangun pabrik pengolahan batu bara menjadi etanol,  metanol,  acetic acid dan syngas dengan kebutuhan lahan seluas 100 hektare.

Baca juga :   Indonesia akan jadi produsen otomotif pada 2012

Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi menyebutkan investor tersebut diarahkan pemerintah pusat untuk melihat lokasi di Balikpapan yang memiliki Kawasan Industri Kariangau (KIK).

Teknologi yang ditawarkan oleh investor ini diklaim menggunakan teknologi baru yang ramah lingkungan.  Selain itu,  pemanfaatan bahan baku batu bara berkalori rendah juga akan menguntungkan bagi pengusaha batu bara yang kesulitan menjualnya.

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Balikpapan Yosmianto mengatakan pemerintah kota memiliki lahan seluas yang dibutuhkan untuk dibangun pabrik tersebut.   Pihaknya mengakui sudah menawarkan lahan tersebut apabila investor memang benar berminat.

Menurutnya,  pembangunan fisik pabrik paling cepat akan bisa direalisasikan pada 2014,  apabila yang digunakan lahan pemerintah karena investor tidak perlu membebaskan lahan.

Kepala Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Kota Balikpapan Nining Surtiningsih juga mengaku masih belum mengetahui detail informasi mengenai rencana tersebut.

130430-01e

Sedangkan PT Adaro Energy Tbk menganggarkan belanja modal/capital expenditure (capex) sebesar US$ 200 juta pada 2013,  guna akuisisi lahan tambang dan biaya rutin perseroan.

Sekretaris Perusahaan PT Adaro Energy Tbk,  Devindra Ratzarwin,  dana belanja modal bersumber dari kas internal perseroan dan pinjaman bank sebelumnya.  “Porsinya lebih besar kas internal,  capex US$ 150 juta-US$ 200 juta,” kata Devindra.

Menurut dia,  akuisisi tambang ada di sejumlah daerah merupakan lokasi yang sudah produksi tapi tempatnya belum bisa disebutkan.  Dengan akuisisi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi batu bara pada 2013.

“Kita genjot produksi,  tahun ini target sebanyak 50 sampai 53 juta ton,  di mana tahun sebelumnya perseroan hanya memproduksi 47,2 juta ton,” ujar Devindra.

Devindra tidak menyebutkan nominal yang ditargetkan perseroan di tahun 2013 ini.  “Kami tidak menargetkan,  kita hanya target produksi saja dan tahun ini bisa tercapai hingga 53 juta ton,” ucapnya.

China ingin investasi industri tambang

Sementara itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyatakan  Pemerintah China berminat meningkatkan penanaman modalnya di Indonesia tahun 2013 ini. China berminat investasi di bidang industri pengolahan produk tambang dan  agro.

Azhar Lubis, Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, mengatakan pernyataan China tersebut muncul ketika BKPM mengundang investor asing untuk bisa berpastisipasi dalam rencana penanaman modal di Indonesia. Sebelumnya, investor asal China telah menyatakan tertarik investasi di bidang usaha pengolahan produk tambang seperti nikel menjadi feronikel.

“Penyataan minat asing di sektor pengolahan produk tambang dan pengolahan produk agro tahun ini sudah banyak. Investor yang menyatakan minat tersebut juga termasuk yang berasal dari China, jadi ini masih banyak lagi yang akan berpartisipasi,” jelas Azhar.

Azhar mengungkapkan, realisasi investasi China sampai dengan tahun ini belum masuk dalam lima besar negara asal investasi. Bahkan data BKPM mencatat realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) asal China selama Januari hingga Juni tahun 2012 mencapai  US$ 62,58 juta dengan 119 proyek investasi.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan lima negara yang mencatatkan investasi di Indonesia sampai dengan semester I 2012 seperti Singapura dengan investasi sebesar US$ 2 miliar, Jepang sebesar US$ 1,1 miliar, Korea Selatan sebesar US$ 1miliar, Amerika Serikat sebesar US$ 0,7 miliar dan Australia sebesar US$ 0,6 miliar.

Data BKPM juga mencatat realisasi investasi China di Indonesia sepanjang 2007-2011 baru sebesar US$ 498,81 juta. Tahun 2011 investasi China hanya sebesar US$128,2 juta dengan 160 proyek investasi masuk ke Indonesia, sedangkan tahun 2010 tercatat realisasi investasinya mencapai US$173,65 juta.

Himawan Hariyoga, Deputi Kepala BKPM Bidang Promosi dan Penanaman Modal, mengatakan pemerintah akan terus mengejar potensi investasi yang berasal dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, salah satunya adalah China yang akan dituju dengan membuka kantor perwakilan baru di kota Beijing.

Menurutnya,  China memiliki potensi minat investasi yang cukup besar dan belum tergali dengan baik. Saat ini nilai perdagangan China  cukup besar ke Indonesia, ke depan China punya potensi mengalihkan investasinya ke Indonesia karena mulai bermasalahnya iklim investasi di sana.

Selain China, upaya yang dilakukan BKPM adalah membuka kantor perwakilan baru di kota-kota besar negara non-tradisional seperi Seoul di Korea Selatan, Frankfurt di Jerman dan Mumbai serta Kalkuta di India.

Eric Alexander Sugandi, Ekonom Standard Chartered Bank Indonesia, mengatakan potensi investasi China ke Indonesia cukup besar khususnya pada sektor pertambangan dan pengolahan bahan energi seperti batu bara. Sektor tersebut diminati karena besarnya kebutuhan energi yang juga dibutuhkan China dalam meningkatkan pertumbuhannya.

Eric melanjutkan, besarnya potensi itu sebenarnya bukan yang terbaik bagi Indonesia untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah seharusnya mendorong masuknya investasi China pada sektor infrastruktur seperti pembangunan jalan, peningkatan perhubungan antar pulau dan infrastruktur energ, ((Sumber: tender-indonesia.com dan Finance Today)

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda