POTENSI ENERGI PADA PEMANASAN GLOBAL

Ancaman Terhadap Keselamatan Manusia

0
9

Gumpalan es di  kutub utara dan kutub selatan terus mencair. Es di Greenland mencair sebanyak 19 juta ton. Dr. H. J. Zwally ahli iklim NASA (National Aeronautics and Space Administration)  memprediksi bahwa semua es di kedua kutup akan lenyap mulai tahun 2008 hingga 2012. Salah satu cara menghindari dampak pemanasan global, Indonesia  melakukan gerakan tanam pohon satu miliar setiap tahun.

Berbeda dengan pengamatan Zwally, ahli di Jerman, menjelaskan bahwa seluruh es di kedua kutub akan lenyap pada tahun 2040 hingga tahun 2100. Pencairan es di kutub itu disebabkan oleh pemanasan global. Jika prediksi itu terjadi, berarti dunia  gagal membatasi dan mengantisipasi pemanasan global. Tentu saja kita berharap, dampak negatif pemanasan global itu dapat kita hindari. Bahaya besar akan terjadi. Keselamatan umat manusia bakal terancam.

Advertisement

Di Eropa,  akan terjadi perubahan dua derajat terhadap ekonomi dan pasar tenaga kerja pada tahun 2050. Untuk mengetahui dampak pemanasan global itu, lembaga  Institut Fraunhofer di bidang  Riset Inovasi dan Sistem (System and Innovation Research –ISI) menghasilkan temuan-temuan baru yang menggembirakan.

Sebagaimana terakhir ditunjukkan oleh serangkaian peristiwa di Kopenhagen, konferensi iklim internasional lazimnya menjadi persoalan yang cukup rumit. Namun, ketika para politisi bergulat menentukan target pengurangan dan angka-angka persentase, kita cenderung melupakan fakta bahwa banyak penelitian ilmiah yang sulit mengkaji angka-angka tersebut.

Gambar: Aksi menentang CO2, sebuah demonstrasi untuk mendukung pemotongan emisi karbondioksida diadakan selama penyelenggaraan Konferensi Iklim PBB di Kopenhagen. (Foto/©: ecopix/Friedel)

Bala tentara penyelamat duna sejati terdiri dari ahli-ahli yang melakukan pekerjaan awal. Hasil-hasil penelitian para ahli itu bermanfaaat bagi  para negosiator—yakni para pejabat seperti diplomat dan kepala negara—yang menggunakannya sebagai bahan untuk merancang konsep perjanjian-perjanjian potensial. Perjanjian-perjanjian itu  bukan sekedar kata-kata yang terucap di ruang hampa.

Institut Fraunhofer untuk Riset Inovasi dan Sistem ISI di Karlsruhe berada paling depan untuk melaporkan perubahan global yang sangat rumit. Tim itu mewakili Komisi Eropa. Dalam laporan yang berjudul ADAM two-degree scenario for Europe – policies and impacts, (Skenario dua-derajat ADAM untuk Eropa–kebijakan dan imbasnya)—peneliti ISI bekerja sama dengan para ahli sejumlah lembaga dan negara lain.

Bagimana kita menghadapi masa depan jauh ke tahun 2050? Kita akan mendapatkan jawaban  dengan pertanyaan-pertanyaan berikut:

“Apa yang harus Eropa lakukan untuk membatasi pemanasan global hingga dua derajat?

“Apa hasil upaya-upaya yang kita lakukan terhadap ekonomi dan pasar nyerapan di setiap?”

Para ilmuwan dan politisi menyepakati bahwa suhu bumi tidak boleh dibiarkan naik lebih dari dua derajat di atas level pra-industri, jika kita  menghendaki  efeknya terhadap manusia tetap terjaga dalam batas toleransi. Dunia berkonsensus bahwa sumber utama gas rumah kaca adalah negara-negara industri yang harus mengurangi emisi dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang dihasilkan oleh negara-negara berkembang.

Negara-negara industri harus mencapai target pengurangan hingga 80 persen pada tahun 2050 jauh lebih besar jika dibandingkan dengan target  tahun 1990. Kajian yang dihasilkan oleh ISI telah membuktikan bahwa Eropa  mampu mencapai target itu tanpa berefek terhadap ekonomi yang merugikan Eropa.

80 persen pengurangan gas rumah kaca pada tahun 2050

Kerja keras dan menghabiskan waktu lama dilewati dengan laporan setebal 400 halaman.  Laporan itu berisikan ramalan jauh ke masa depan—ibarat memecahkan persamaan matematika  yang kompleks dengan banyak hal yang tidak diketahui.

Sangat sulit menggabungkan semua model yang berbeda menjadi dasar kajian. Sebagaimana dijelaskan oleh manajer proyek Wolfgang Schade dari ISI: “Kami harus menemukan sistem pemodelan yang terintegrasi bagi 27 negara.”

Model-model yang digunakan sebelumnya terkait dengan sektor-sektor transportasi, pasokan energi atau rumah tangga. Akan tetapi, sekarang para ahli mencari gambaran yang lebih komprehensif dan berbagai untuk saling ketergantungan.

Untuk memberikan gambaran, mengkonversikan daya listrik berbasis batubara menjadi listrik tenaga angin dan matahari memiliki efek domino bahwa batubara menjadi lebih sedikit yang diangkut. Pada gilirannya lebih sedikit energi yang diperlukan untuk transportasi.

Kesimpulan dari penelitian itu adalah target pengurangan 80 persen dapat dicapai. Namun, upaya besar diperlukan, tidak hanya untuk memperluas penggunaan energi terbarukan, tetapi juga untuk menghemat seluruh energi–masih banyak yang terbuang.

Schade menjelaskan, “Kita bisa melakukan penghematan dengan segala macam cara, misalnya dengan memastikan bangunan di sekat secara lebih baik, dengan meningkatkan efisiensi bahan, atau dengan menggunakan peralatan listrik yang membutuhkan daya listrik yang lebih kecil.”

Penelitian ini juga menjelaskan bahwa penghasil polusi harus membayar kerugian yang ditimbulkan terhadap lingkungan-harga yang lebih sesuai harus dikenakan pada karbon dioksida guna meningkatkan tekanan untuk melakukan perubahan. Berbagai insentif seperti label, norma dan standar harus dibuat untuk produk dengan emisi CO2 rendah, untuk mempercepat masuknya produk-produk tersebut ke pasar. Dan tidak kalah pentingnya, para politisi—eksekutif dan legislatif—harus menginvestasikan banyak dana untuk memboayao penelitian. Hal itu bertujuan untuk menciptakan teknologi baru yang ramah iklim dan lingkungan sekaligis mengembangkan bisnis diversifikasi baru.

Sumber foto : http://jatmiko.student.umm.ac.id/about/

Situasi pada saat ini, emitor CO2 terbesar adalah sektor energi, yang juga menjadi penyumbang sekitar setengah dari seluruh gas rumah kaca. Namun, ada potensi terbesar untuk dilakukan penghematan–angkanya sangat besar hingga 90 persen. Dalam skenario dua derajat kajian itu, batubara harus kehilangan peran sentral di antara sumber-sumber energi, sedangkan sektor energi terbarukan dapat berekspansi untuk menyediakan sebanyak 75 persen listrik Eropa dalam 40 tahun ke depan. Para ahli memperkirakan bahwa listrik tenaga angin khususnya akan terus mengalami pertumbuhan substansial. Jika langkah-langkah hemat energi diberlakukan, Eropa tidak hanya bisa berhenti memperluas industri tenaga nuklir yang sangat kontroversial itu,  juga bisa melepaskan diri dari kebijakan penyimpanan dan jeratan karbon saat ini yang masih sesuai dengan target iklim.

Baca juga :   Mengungkap Rahasia Kutub Utara

Transportasi juga mempunyai masalah besar. Sektor ini akan mengambil alih posisi sebagai emitor tertinggi karbondioksida—persentase emisi gas rumah kaca di Eropa diperkirakan akan meningkat dari seperempat menjadi sekitar setengah. Namun, dapat dilakukan penghematan besar. Secara absolut, emisi karbondioksida dapat dikurangi hingga 62 persen jika konsep yang lebih mendorong alternatif diadopsi. Akan tetapi, tentu saja hal itu mengandaikan peneliti yang tengah mengerjakan teknologi baterai untuk segera melakukan terobosan. Dalam waktu 40 tahun, hampir seperempat dari kendaraan bisa bertenaga listrik. Studi ini juga menemukan bahwa upaya bersama untuk melindungi lingkungan akan memiliki efek merugikan yang kecil pada ekonomi nasional. Pengeluaran yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ramah iklim hampir tidak memperlambat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)—efek bersih (net) pada kisaran 1,7 dan 2,7 persen selama 40 tahun ke depan. Dengan kata lain, selama jangka waktu itu, PDB akan meningkat sekitar 83 bukan 85 persen.

Krisis keuangan mendorong PDB turun pada angka empat sampai enam persen dalam dua tahun. Dampak pengereman ekonomi yang kecil ini juga lebih mudah diterima jika kita mempertimbangkan berapa biaya yang harus ditanggung oleh ekonomi nasional jika tidak melakukan apa-apa. “Jika terjadi seperti keadaan itu, konsekuensi dari perubahan iklim dapat memangkas GDP sebanyak 20 persen,” kata Schade, mengacu pada studi yang dilakukan pada tahun 2007 oleh Sir Nicholas Stern, seorang profesor di London School of Economics. Dan negara-negara tertentu bisa mendapatkan keuntungan dari perubahan tersebut–khususnya negara-negara Eropa Timur yang memiliki potensi biomassa signifikan, dan juga Denmark, Finlandia, Norwegia dan Swedia.

Inisiatif perlindungan iklim juga tidak akan berdampak besar pada pasar tenaga kerja. Tergantung pada skenario persisnya, perubahan tingkat lapangan kerja secara keseluruhan akan berfluktuasi antara pengurangan sekitar 0,3 persen dan peningkatan sekitar 0,2 persen. Mungkin ada reorganisasi pasar—pemasok energi cenderung mengurangi jumlah karyawan, sedangkan pertanian niscaya akan mendapatkan keuntungan karena biomassa menjadi sumber energi yang semakin penting. Bahkan industri kemungkinan mendapatkan keuntungan, karena perubahan teknologi secara umum memerlukan sejumlah besar mesin dan peralatan baru.

Penelitian Fraunhofer didasarkan pada sejumlah asumsi, tidak semuanya akan terbukti benar, karena masa depan selalu penuh kejutan. Krisis keuangan tentu memberi gambaran bagi kita. Di bidang teknologi, kita mungkin melihat terobosan demi terobosan selama 40 tahun ke depan yang tidak seorang pun bisa membayangkan hal itu. Akan tetapi, satu hal yang pasti: Dengan memulai pada jalur politik yang tentu saja penting dan mempertahankan fleksibilitas untuk mengubah arah yang diperlukan, kontribusi Eropa terhadap upaya global niscaya akan membantu menghentikan perubahan iklim. (Klaus Jacob, Informasi: www.fraunhofer.de/magazine)

Gerakan tanam satu miliar pohon sumbangan Indonesia

Meski penelitian yang dilakukan para ahli di Jerman dan Eropa belum dilakanakan, namun Indonesia telah melakukan Gerakan Tanam Satu Miliar Pohon dalam Setahun–sumbangan Indonesia dalam upaya mengatasi pemanasan global. Indonesia selalu menyelenggarakan Peringatan Hari Menanam Pohon Indonesia yang berlangsung tiap bulan November. Indonesia bertekad, sebelum tahun 2020, dapat  mengurangi emisi 26 persen emisi dengan prioritas pada pemeliharaan dan pengelolaan hutan. Sementara dari sisi internasional yaitu menghutankan kembali, mengurangi pembalakan liar, mencegah atau mengatasi kebakaran hutan, mengelola dan melindungi lahan gambut.

Sumber foto : http://www.esdm.go.id/images/stories/general/hari%20menanam.jpg

Kerangka kerjasama internasional misalnya REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) bagi Indonesia akan menjadi fair dan baik kalau masyarakat dunia ikut perduli. Indonesia dengan kesadaran sendiri menambah satu gerakan nasional seperti Gerakan Tanam 1 Miliar Pohon yang dilakukan serempak di seluruh tanah air.

Selain menghutankan kembali—Indonesia yang tadinya memiliki hutan hijau—dengan  menanam  minimal 1 miliar pohon dalam setahun, Indonesia menyerahkan penghargaan kepada kepala daerah dan masyarakat yang memenangi Lomba Penanaman Satu Miliar Pohon Tingkat Nasional, serta Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun Tingkat Nasional.

Incoming search terms:

Advertisement

Tulis Opini Anda